Baru Coba Shutterstock Contributor, Ternyata Begini Pengalamanku

 




Setelah sebelumnya mencoba menjadi Adobe Stock Contributor, kali ini aku mencoba sesuatu yang masih berhubungan dengan hobi yang sama, yaitu Shutterstock Contributor.


Aku memang suka memotret hal-hal random yang menurutku menarik. Kadang foto makanan, suasana sekitar, barang yang ada di rumah, atau apa saja yang kebetulan terlihat bagus di kamera.


Daripada foto-foto tersebut hanya memenuhi galeri HP, aku mulai berpikir, kenapa tidak sekalian mencoba mengunggahnya ke situs stock photo?


Siapa tahu suatu hari ada yang membutuhkan dan membeli foto tersebut.


Dari situlah aku mulai mencoba menjadi contributor.


Ternyata Tidak Cukup Cuma Punya Foto


Awalnya aku kira menjadi contributor tinggal daftar, pilih foto, lalu upload.


Ternyata tidak sesederhana itu. 😂


Ada beberapa persyaratan yang harus diperhatikan sebelum foto bisa dikirim.


Foto juga harus memenuhi persyaratan teknis yang ditentukan. Jadi tidak semua foto yang ada di galeri otomatis bisa diterima.


Aku yang masih pemula tentu harus belajar sedikit demi sedikit.


Mulai dari memperhatikan kualitas foto, ukuran, sampai bagaimana membuat judul dan kata kunci yang sesuai.


Kadang hal seperti ini justru membuatku sadar bahwa menjual foto ternyata bukan sekadar mengambil gambar yang menurut kita bagus.


Akunku Masih Baru


Karena baru mencoba, tentu saja portofolioku masih sangat sedikit.


Dari dashboard yang aku lihat sekarang, ada 1 gambar yang sudah masuk portofolio, sementara 10 gambar masih menunggu persetujuan.


Ada juga beberapa gambar yang sudah masuk bagian baru-baru ini ditinjau.


Jadi sekarang tugasku tinggal menunggu hasil pemeriksaan sambil belajar untuk mengunggah foto berikutnya.


Melihat tulisan “Menunggu persetujuan” memang bikin penasaran juga.


Foto mana yang diterima?


Mana yang ditolak?


Apa alasannya kalau ada yang tidak lolos?


Namanya juga baru mulai. Jadi aku mencoba tidak terlalu berharap semuanya langsung diterima.


Aku Masih Belajar


Aku tidak ingin mengatakan kalau aku sudah ahli soal stock photography.


Jauh dari itu. 😆


Aku masih benar-benar belajar.


Aku masih belajar melihat apakah sebuah foto punya nilai untuk kebutuhan stock, belajar memilih foto yang lebih layak diunggah, dan belajar membuat metadata seperti judul dan keyword dalam bahasa Inggris.


Bahkan terkadang aku sendiri masih bertanya-tanya,


“Foto seperti ini kira-kira ada yang mau beli nggak, ya?” 😂


Tapi menurutku tidak ada salahnya mencoba.


Toh, foto-foto itu memang sudah ada.


Kalau ternyata bisa menghasilkan uang suatu hari nanti, tentu menyenangkan.


Tidak Berarti Foto Langsung Menghasilkan Uang


Ini juga yang sedang aku pahami sejak mulai mencoba menjadi contributor.


Aku tidak berharap baru upload beberapa foto lalu langsung mendapatkan penghasilan.


Pasti membutuhkan waktu.


Foto harus lolos pemeriksaan terlebih dahulu, kemudian masuk ke portofolio. Setelah itu pun belum tentu langsung ada orang yang membeli.


Bisa saja foto kita sudah diterima tetapi belum ada yang mengunduhnya.


Jadi untuk sekarang aku lebih menganggapnya sebagai proses belajar sekaligus mencoba peluang baru.


Kalau nanti ada foto yang benar-benar terjual, tentu itu akan menjadi pengalaman yang menyenangkan untuk diceritakan lagi. 😆


Galeri HP Jadi Punya Tujuan Lain


Sebenarnya ini bagian yang paling menarik buatku.


Selama ini aku memang suka memotret.


Ada kalanya aku melihat sesuatu yang menurutku bagus, lalu langsung mengambil foto tanpa terlalu memikirkan apa gunanya nanti.


Sekarang aku mulai melihat foto-foto tersebut dari sudut pandang yang sedikit berbeda.


Apakah foto ini cukup bagus?


Apakah ada orang yang mungkin membutuhkan gambar seperti ini?


Apakah bisa digunakan untuk artikel, desain, media sosial, atau kebutuhan lainnya?


Jadi tanpa sadar aku mulai lebih memperhatikan foto yang kuambil.


Masih Akan Terus Mencoba


Untuk sekarang aku belum tahu akan sejauh apa perjalanan menjadi contributor ini.


Aku juga belum tahu apakah nantinya akan benar-benar menghasilkan atau hanya menjadi pengalaman baru bagiku.


Tapi aku ingin mencoba dulu.


Tidak harus langsung menghasilkan banyak.


Tidak harus langsung punya ratusan foto.


Pelan-pelan saja.


Aku akan mencoba mengunggah foto yang memang menurutku layak, belajar dari foto yang ditolak, dan memperbaiki kualitas foto berikutnya.


Siapa tahu dari hobi memotret hal-hal random di sekitar kita ternyata bisa membuka peluang yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.


Kalau nanti ada foto pertamaku yang berhasil terjual, mungkin aku akan kembali menulis ceritanya di blog ini. 😆📸


Untuk sekarang, aku masih berada di tahap:


Daftar → Upload → Menunggu review → Belajar lagi.


Dan perjalanan baruku sebagai Shutterstock Contributor baru saja dimulai. 🤍



Komentar