Tiga Tahun LDM: Jarak yang Mengajarkanku Arti Keluarga

 

3 Tahun LDM Setelah Menikah: Hamil, Bekerja Tiga Shift, dan Membesarkan Anak dari Jauh




Ada masa ketika aku bertanya-tanya, sebenarnya sampai kapan aku dan suami harus menjalani rumah tangga seperti ini?


Kami sudah menikah sejak Mei 2023, tetapi sampai sekarang kami masih tinggal di kota yang berbeda.


Aku di Batam.


Suamiku di Bangka.


Bukan karena kami tidak ingin tinggal bersama. Bukan juga karena kami sengaja memilih hubungan jarak jauh setelah menikah. Pekerjaanlah yang membuat kami harus menjalani kehidupan seperti ini.


Aku seorang PNS dan bekerja di rumah sakit. Sementara suamiku juga memiliki pekerjaan yang membuatnya harus berada di kota yang berbeda.


Kalau dihitung-hitung, sudah sekitar tiga tahun kami menjalani LDM.


Tiga tahun.


Angka yang mungkin terdengar biasa kalau hanya ditulis di atas kertas. Tapi kalau dijalani, ternyata panjang juga.


Memulai Kehidupan di Kota Perantauan


Ketika pertama kali tinggal di Batam, aku tidak langsung benar-benar sendirian.


Aku pernah tinggal mengontrak bersama seorang teman yang sama-sama merantau. Setidaknya ada seseorang yang bisa diajak bicara setelah pulang kerja, makan bersama, atau dimintai bantuan ketika ada sesuatu yang mendadak.


Rasanya tentu berbeda ketika tinggal jauh dari keluarga.


Tapi saat itu masih ada teman di rumah.


Sampai akhirnya temanku menikah.


Dia tidak lagi tinggal bersamaku dan kehidupanku di Batam pun berubah.


Sekarang aku tinggal sendiri di kota ini.


Untungnya, aku masih punya beberapa teman yang bisa dimintai tolong ketika ada keadaan mendadak. Mereka bukan keluarga, tetapi selama merantau aku belajar bahwa teman yang bersedia membantu ketika kita sedang membutuhkan juga merupakan sesuatu yang sangat berharga.


Karena ketika keluarga berada jauh, kita memang harus belajar mencari orang-orang yang bisa menjadi tempat bergantung dalam keadaan tertentu.


Bertemu Suami Hanya Beberapa Kali


Kalau ada yang bertanya bagaimana rasanya LDM setelah menikah, mungkin aku akan menjawab sederhana:


Kangen, tetapi sudah terbiasa.


Aku dan suami biasanya hanya bisa bertemu sekitar satu atau dua bulan sekali.


Dan ketika akhirnya bertemu, waktunya sering kali cuma sekitar tiga hari.


Kalau sedang bisa mengambil cuti, kami bisa bersama sekitar lima sampai tujuh hari.


Tapi setelah itu kami harus kembali berpisah.


Lucunya, sekarang aku tidak lagi terlalu memikirkan berapa lama kami bisa bersama.


Tiga hari?


Ya sudah.


Lima hari?


Syukur.


Tujuh hari?


Wah, berarti sedang beruntung.


Yang penting kami bertemu.


Karena setelah menunggu satu atau dua bulan, waktu beberapa hari bersama terasa sangat berarti.


Tidak harus melakukan sesuatu yang istimewa.


Kadang hanya makan bersama, mengobrol, menemani satu sama lain, atau sekadar berada di tempat yang sama sudah cukup.


Sebab setelah sekian lama menjalani hubungan jarak jauh, ternyata kehadiran itu sendiri sudah menjadi sesuatu yang mewah.


Hamil Jauh dari Suami


Salah satu masa yang paling kuingat selama menjalani LDM adalah ketika aku hamil.


Kehamilanku tidak berjalan semudah yang kubayangkan.


Pada trimester pertama, aku mengalami hiperemesis gravidarum sampai harus menjalani perawatan di rumah sakit.


Saat itu suamiku sedang dinas di luar kota.


Dia belum bisa langsung datang menemaniku karena tugasnya masih berlangsung.


Dan akhirnya, orang yang menemaniku selama dirawat justru seorang teman.


Di saat tubuh sedang tidak baik-baik saja, aku tentu ingin suamiku ada di sampingku.


Ingin ada seseorang yang paling dekat denganku ketika aku sedang sakit.


Tapi keadaan tidak selalu bisa mengikuti keinginan.


Suamiku masih harus menyelesaikan dinasnya.


Aku pun menjalani perawatan ditemani oleh teman yang saat itu bisa berada di dekatku.


Baru setelah aku keluar dari rumah sakit, suamiku bisa datang menemuiku.


Rasanya mungkin sulit dijelaskan.


Aku tidak marah kepadanya karena dia sedang bekerja. Aku tahu dia juga punya tanggung jawab.


Tapi sebagai seorang istri yang sedang sakit dan jauh dari keluarga, tentu ada bagian kecil dalam diriku yang berharap dia bisa berada di sana sejak awal.


Ketika akhirnya dia datang setelah aku keluar dari rumah sakit, rasanya seperti mendapat kembali seseorang yang selama ini sangat ingin kulihat.


Tetap Bekerja Saat Hamil


Setelah itu, kehamilan tetap harus kujalani sambil bekerja.


Aku bekerja di rumah sakit dengan sistem tiga shift.


Pagi, sore, bahkan malam.


Ada hari ketika tubuh terasa sangat lelah.


Ada hari ketika rasanya ingin cepat pulang dan beristirahat.


Tetapi pekerjaan tetap harus dijalani.


Dan suamiku tetap berada di kota yang berbeda.


Jadi ketika ada sesuatu yang terjadi secara mendadak, aku tidak bisa begitu saja berkata, “Aku panggil suamiku.”


Karena suamiku tidak berada di kota yang sama.


Teman-temanlah yang biasanya menjadi orang yang bisa aku hubungi ketika membutuhkan bantuan.


Dari situ aku semakin memahami satu hal tentang menjadi perantau.


Kita belajar menghadapi banyak hal sendiri, bahkan ketika sebenarnya kita ingin sekali ditemani.


Kemudian Anak Kami Lahir


Setelah melewati masa kehamilan itu, akhirnya aku menjadi seorang ibu.


Sekarang anakku sudah berusia sekitar dua tahun.


Dan entah bagaimana, anak kecil itu justru menjadi salah satu alasan terbesar kenapa aku bisa terus menjalani semuanya.


Dia tumbuh dengan keadaan bahwa mamanya bekerja.


Papanya juga bekerja.


Dan mereka tidak selalu berada di rumah yang sama.


Tapi anakku ternyata jauh lebih pengertian daripada yang pernah kubayangkan.


Dia tahu aku bekerja.


Dia tahu papanya bekerja.


Dan sejauh ini, dia tidak banyak membuatku harus merasa bersalah karena pergi bekerja.


Tidak banyak tangisan.


Tidak banyak rengekan.


Justru ada satu kebiasaan kecil yang selalu membuat hatiku campur aduk.


Setiap kali aku hendak berangkat kerja, dia sering mengantarku sampai ke depan teras.


Dia melihatku pergi.


Dan ketika aku pulang, dia menungguku.


Mungkin baginya itu hanya rutinitas.


Mamany pergi.


Mamany pulang.


Tapi bagiku, ada sesuatu yang terasa sangat dalam dari kebiasaan sederhana itu.


“Hati-Hati, Nanti Main Lagi Ya, Pa”


Ada kalanya anak kecil bisa mengatakan sesuatu yang sederhana, tetapi justru membuat hati orang tuanya terasa sesak.


Anakku pernah mengatakan:


“Hati-hati, nanti main lagi ya, Pa.”


Kalimat sederhana.


Tapi entah kenapa, mendengarnya membuatku sedih.


Mungkin karena di balik kalimat sederhana itu ada seorang anak kecil yang sudah terbiasa melihat orang tuanya pergi bekerja.


Dia belum mengerti sepenuhnya tentang pekerjaan.


Belum mengerti tentang LDM.


Belum mengerti kenapa papanya tidak selalu ada di rumah.


Tapi dia belajar memahami.


Dan sebagai ibunya, justru aku yang sering merasa bersalah.


Ada bagian dari diriku yang ingin selalu ada untuknya.


Ingin menemani dia bermain.


Ingin melihat semua hal kecil yang dia lakukan.


Ingin berada di rumah ketika dia bangun.


Tapi ada juga pekerjaan yang harus kujalani.


Dan aku tahu, menjadi ibu sekaligus bekerja memang berarti harus belajar membagi hati dan waktu.


Saat Aku Pergi, Dia Mengantar


Sampai sekarang, ketika aku hendak berangkat kerja, dia sering mengantarku sampai ke depan teras.


Aku pergi.


Dia menunggu.


Kemudian ketika aku pulang, dia menyambutku.


Rutinitas sederhana itu justru menjadi salah satu hal yang membuatku selalu ingin pulang secepat mungkin setelah pekerjaan selesai.


Mungkin aku tidak bisa menemani semua waktunya.


Tapi aku ingin dia tahu bahwa meskipun mamanya harus pergi bekerja, mamanya selalu berusaha pulang.


Sekarang Aku Mulai Memikirkan Tahun Depan


Saat ini anakku masih diasuh oleh aunty-nya, yaitu adik kandungku.


Aku bersyukur karena masih ada keluarga yang bisa membantu menjaga anakku ketika aku bekerja.


Tapi ada kemungkinan tahun depan semuanya akan berubah.


Adikku kemungkinan akan menikah dan kembali ke kota asal.


Artinya, aku mungkin harus kembali mencari orang yang bisa dipercaya untuk membantu menjaga anakku.


Dan jujur, memikirkannya saja sudah membuatku sedih.


Bukan karena aku tidak senang kalau adikku menikah.


Tentu aku bahagia untuknya.


Tapi di sisi lain, aku juga harus memikirkan kehidupan kami setelah itu.


Siapa yang akan menjaga anakku ketika aku bekerja?


Bagaimana kalau aku mendapat shift malam?


Di mana aku bisa menemukan tempat penitipan anak yang benar-benar bisa kupercaya?


Pertanyaan-pertanyaan itu mulai muncul satu per satu.


Dan sebagai seorang ibu yang bekerja tiga shift, mencari tempat penitipan anak bukan perkara sederhana.


Aku tidak hanya membutuhkan tempat untuk menitipkan anak.


Aku membutuhkan seseorang yang bisa membuatku merasa tenang ketika aku sedang bekerja.


Karena ketika berada di rumah sakit, aku ingin bisa fokus bekerja tanpa terus-menerus memikirkan apakah anakku aman.


Ternyata Tiga Tahun Itu Banyak Mengajarkanku


Tiga tahun menjalani LDM setelah menikah membuatku belajar banyak hal.


Aku belajar bahwa rumah tangga tidak selalu berjalan seperti yang kita bayangkan.


Aku belajar bahwa menikah tidak otomatis membuat dua orang bisa selalu bersama.


Aku belajar bahwa rindu bisa menjadi sesuatu yang biasa.


Aku belajar bahwa tiga hari bersama suami bisa terasa sangat berharga setelah menunggu selama satu atau dua bulan.


Aku juga belajar bahwa menjadi ibu bekerja berarti harus membuat banyak keputusan yang tidak selalu mudah.


Dan yang paling penting, aku belajar bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak pernah merasa sedih.


Aku pernah merasa sendirian.


Pernah ingin suami ada di samping ketika sedang sakit.


Pernah merasa berat meninggalkan anak untuk bekerja.


Pernah takut memikirkan masa depan ketika orang yang selama ini membantu menjaga anakku mungkin tidak lagi bisa melakukannya.


Tetapi semuanya tetap harus dijalani.


Hari berganti hari.


Anakku tumbuh.


Aku bekerja.


Suamiku bekerja di kota yang berbeda.


Dan kami tetap menjadi keluarga.


Mungkin Suatu Hari Nanti Kami Akan Tinggal Bersama


Aku tidak tahu kapan LDM ini akan berakhir.


Mungkin suatu hari nanti kami bisa tinggal di kota yang sama.


Mungkin nanti aku tidak perlu lagi menghitung kapan bisa bertemu suami.


Mungkin nanti anakku tidak perlu lagi terbiasa dengan ayah dan ibunya yang bekerja dari tempat berbeda.


Tapi untuk sekarang, aku memilih menjalani apa yang ada di depan mata.


Aku memilih bersyukur karena masih bisa bertemu suami meskipun hanya beberapa bulan sekali.


Aku memilih bersyukur karena ada teman yang pernah menemaniku ketika aku sakit.


Aku memilih bersyukur karena adikku masih membantu menjaga anakku.


Dan aku memilih bersyukur karena meskipun hidup kami jauh dari kata sempurna, kami masih terus berusaha.


Karena ternyata keluarga tidak selalu berarti harus berada di satu tempat setiap hari.


Kadang keluarga adalah tentang orang-orang yang tetap saling menunggu meskipun berada di kota yang berbeda.


Tentang suami yang tetap berusaha pulang ketika ada kesempatan.


Tentang anak kecil yang berdiri di depan teras mengantarkan mamanya pergi bekerja.


Dan tentang seorang ibu yang setiap kali meninggalkan rumah selalu membawa satu harapan sederhana:


semoga nanti bisa pulang dan melihat anaknya masih menunggunya.

Komentar