Menjadi Ibu yang Bekerja: Antara Rasa Sedih, Syukur, dan Kekhawatiran

 

Menjadi Ibu yang Bekerja: Antara Rasa Sedih, Syukur, dan Kekhawatiran






Setiap kali aku mulai bersiap untuk berangkat kerja, ada satu orang kecil yang hampir selalu ikut sibuk.


Bukan karena dia mau ikut bekerja.


Dia cuma penasaran dengan semua yang sedang kulakukan.


Ketika aku mulai mengambil makeup, dia ikut mendekat. Saat aku memakai handbody, dia ingin tahu dan ikut mencoba. Bahkan skincare pun tidak luput dari rasa penasarannya.


Dia tahu mana skincare miliknya.


Dan tentu saja, kalau melihat mamanya sedang memakai sesuatu, dia merasa harus ikut mencoba.


Kadang aku hanya bisa tertawa melihat tingkahnya.


Sebenarnya aku bukan tipe perempuan yang suka berdandan terlalu heboh. Sejak dulu, makeup-ku juga sederhana.


Untuk sekarang, skincare yang kupakai adalah Skinmologi. Sementara untuk bedak, entah kenapa sejak masih gadis aku justru selalu setia dengan bedak bayi.


Mereknya tidak terlalu penting bagiku.


My Baby, Cussons, Johnson's, apa saja.


Yang penting bedak bayi. 😄


Biasanya setelah skincare, aku hanya memakai bedak, sedikit lipstik, maskara, dan eyeshadow tipis.


Sudah.


Tidak perlu terlalu banyak.


Tapi bagi anakku, semua yang ada di meja makeup itu seperti mainan baru yang harus dicoba.


Lipstik Mamanya Juga Ikut Dicoba


Ada satu kebiasaan kecilnya yang sampai sekarang selalu membuatku tertawa.


Kalau aku sedang memakai lipstik, dia juga ingin ikut.


Bukan sekadar ingin memakai lipstik.


Dia malah ingin dicium di bibir supaya warna lipstiknya menempel.


Setelah itu dia akan berlari ke depan kaca.


Lalu melihat dirinya sendiri.


Bergaya.


Kadang aku cuma bisa menahan tawa melihat tingkahnya.


Mungkin bagi dia itu permainan kecil.


Bagi aku, itu adalah salah satu kenangan sederhana yang mungkin suatu hari nanti akan sangat kurindukan.


Karena sekarang dia masih kecil.


Masih suka mengikuti apa yang dilakukan mamanya.


Masih penasaran dengan barang-barang yang dipakai mamanya.


Dan masih menganggap kegiatan sederhana seperti memakai lipstik sebagai sesuatu yang menyenangkan.


Justru Saat Bersiap Kerja, Aku Sering Merasa Sedih


Di balik semua tingkah lucunya itu, ada perasaan lain yang sering muncul.


Sedih.


Karena setelah selesai bersiap, aku harus pergi bekerja.


Dan dia tahu itu.


Dia sering mengikuti aku sampai ke depan.


Kadang aku merasa seperti sedang dikejar oleh rasa bersalah sendiri.


Bukan karena aku tidak ingin bekerja.


Aku justru bersyukur masih memiliki pekerjaan.


Tapi menjadi ibu yang bekerja membuatku harus belajar menerima bahwa ada banyak momen bersama anak yang tidak bisa selalu kudapatkan.


Aku tidak bisa selalu ada ketika dia ingin bermain.


Tidak bisa selalu menemani setiap saat.


Dan tidak selalu bisa berada di rumah ketika dia membutuhkan seseorang.


Apalagi pekerjaanku di rumah sakit menggunakan sistem tiga shift.


Jadi waktu kerjaku tidak selalu sama.


Ada saatnya aku harus bekerja pagi.


Ada saatnya sore.


Dan ada pula waktunya aku harus menjalani shift malam.


Mungkin itu sebabnya setiap waktu yang bisa kuhabiskan bersamanya menjadi sangat berarti.


Sekarang Aku Masih Bisa Merasa Tenang


Saat ini aku masih cukup merasa tenang karena anakku diasuh oleh adikku.


Setidaknya aku tahu dia bersama orang yang sudah kukenal.


Aku bisa menanyakan kabarnya.


Aku juga masih bisa memantau keadaan anakku melalui adikku ketika sedang bekerja.


Perasaan itu membuatku sedikit lebih tenang.


Tapi aku tahu keadaan tidak selamanya akan seperti sekarang.


Adikku kemungkinan akan menikah dan kembali ke kota asal.


Dan ketika hari itu datang, mungkin semuanya akan terasa berbeda.


Aku harus mencari lagi orang yang bisa dipercaya untuk menjaga anakku.


Mungkin tempat penitipan anak.


Mungkin pengasuh.


Aku belum tahu.


Dan jujur, memikirkannya saja sudah membuatku khawatir.


Bukan karena aku tidak percaya kepada orang lain.


Tetapi sebagai seorang ibu, rasanya memang sulit menyerahkan anak kepada orang lain lalu pergi bekerja dengan perasaan benar-benar tenang.


Aku pasti akan bertanya-tanya.


Apakah dia sudah makan?


Apakah dia tidur?


Apakah dia menangis?


Apakah dia sedang mencari mamanya?


Hal-hal kecil seperti itu mungkin akan terus ada di kepalaku selama bekerja.


Aku Tidak Ingin Berhenti Bekerja Hanya karena Takut


Ada orang yang mungkin berpikir, kalau sudah punya anak, kenapa tidak berhenti bekerja saja?


Aku sendiri tidak menyalahkan pilihan siapa pun.


Setiap ibu punya keadaan dan pertimbangannya masing-masing.


Kalau aku?


Aku tetap ingin bekerja.


Bukan karena aku lebih mementingkan pekerjaan daripada anak.


Bukan juga karena aku tidak ingin menghabiskan waktu bersamanya.


Aku hanya mencoba realistis.


Kita tidak pernah tahu bagaimana kehidupan akan berjalan beberapa tahun ke depan.


Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok.


Karena itu, selama masih diberikan kesempatan untuk bekerja, aku ingin tetap bertanggung jawab terhadap pekerjaanku sekaligus tetap menjalankan tanggung jawabku sebagai seorang ibu.


Menurutku, bekerja dan menjadi ibu bukan dua hal yang harus selalu dipertentangkan.


Aku hanya perlu belajar bagaimana menjalani keduanya sebaik mungkin.


Mungkin tidak sempurna.


Tapi aku berusaha.


Kalau Libur, Aku Ingin Ada untuknya


Ketika sedang libur, sebisa mungkin aku mengajak anakku bermain.


Walaupun sebenarnya waktu libur juga sering kali menjadi kesempatan bagiku untuk beristirahat setelah bekerja.


Apalagi kalau sebelumnya mendapatkan shift yang cukup melelahkan.


Kadang aku memang hanya ingin tidur.


Tetapi ketika melihat anakku ingin bermain, rasanya sayang juga kalau seluruh waktu libur hanya kuhabiskan untuk tidur.


Jadi kami bermain.


Tidak harus pergi ke tempat yang mahal.


Tidak harus membuat kegiatan yang istimewa.


Kadang cukup berada di rumah.


Bermain bersama.


Mengobrol.


Menemaninya melakukan sesuatu.


Yang penting aku ada di sisinya.


Karena mungkin baginya, kehadiran mamanya adalah hal yang paling sederhana.


Sedangkan bagiku, waktu bersamanya adalah sesuatu yang harus benar-benar kujaga.


Aku Ingin Dia Mengerti Suatu Hari Nanti


Mungkin sekarang anakku belum mengerti kenapa mamanya harus bekerja.


Dia hanya tahu mamanya pergi.


Dia tahu mamanya pulang.


Dia tahu ketika mamanya ada di rumah, kami bisa bermain bersama.


Suatu hari nanti, ketika dia sudah lebih besar, mungkin dia akan mengerti.


Bahwa mamanya bekerja bukan karena ingin menjauh darinya.


Bahwa setiap kali mamanya berangkat kerja, ada rasa berat yang ikut dibawa.


Bahwa di balik semua pekerjaan dan kesibukan, selalu ada seorang ibu yang ingin segera pulang.


Aku tidak tahu apakah nanti dia akan mengingat semua kebiasaan kecil kami.


Apakah dia akan mengingat bagaimana dulu dia suka mengikuti mamanya ketika sedang memakai makeup.


Atau bagaimana dia meminta dicium supaya lipstik mamanya menempel di bibirnya.


Atau bagaimana dia berdiri di depan kaca sambil bergaya setelahnya.


Mungkin tidak.


Tapi aku akan mengingatnya.


Karena justru hal-hal kecil seperti itulah yang membuat perjalanan menjadi seorang ibu terasa begitu berharga.


Menjadi Ibu Bekerja Bukan Berarti Tidak Pernah Sedih


Aku masih sering merasa sedih ketika harus meninggalkan anak untuk bekerja.


Aku masih merasa khawatir ketika memikirkan siapa yang akan menjaganya nanti.


Aku masih ingin punya lebih banyak waktu untuk bermain dengannya.


Tapi di sisi lain, aku juga bersyukur.


Aku bersyukur masih memiliki pekerjaan.


Bersyukur masih bisa memberikan sesuatu untuk keluargaku.


Dan bersyukur masih diberi kesempatan untuk menjalani dua peran sekaligus.


Menjadi seorang ibu.


Dan menjadi seorang perempuan yang tetap bekerja.


Mungkin aku tidak selalu bisa memberikan waktu sepanjang hari untuk anakku.


Tetapi ketika aku punya waktu, aku ingin benar-benar hadir.


Mendengarkan ceritanya.


Menemaninya bermain.


Melihat tingkah lucunya.


Dan menikmati hal-hal kecil yang mungkin suatu hari nanti hanya akan menjadi kenangan.


Karena pada akhirnya, aku tidak ingin anakku hanya mengingat bahwa mamanya adalah seseorang yang sering pergi bekerja.


Aku ingin dia juga mengingat bahwa setiap kali mamanya pulang, mamanya selalu punya waktu untuknya.


Dan mungkin, untuk sekarang, itu sudah cukup.


Aku tidak harus menjadi ibu yang sempurna.


Aku hanya ingin menjadi ibu yang terus berusaha.

Komentar