Menjadi Perantau: Hal-Hal yang Baru Kupahami Setelah Jauh dari Rumah
Dulu aku pikir menjadi perantau hanya berarti tinggal jauh dari keluarga.
Ternyata tidak sesederhana itu.
Ada banyak hal kecil yang baru terasa setelah kita benar-benar hidup sendiri. Hal-hal yang dulu mungkin tidak pernah kupikirkan karena semuanya sudah tersedia di rumah.
Pakaian kotor tinggal dimasukkan ke keranjang.
Makanan sudah ada.
Kalau sakit, ada yang memperhatikan.
Kalau ada barang rusak, selalu ada orang yang bisa dimintai bantuan.
Setelah tinggal jauh dari rumah, semuanya berubah.
Tidak ada yang akan tiba-tiba mengerjakan pekerjaan rumah untuk kita. Tidak ada yang tahu kalau kita sedang sakit kecuali kita sendiri yang mengatakannya. Dan ketika ada sesuatu yang terjadi, kita harus belajar mencari jalan keluarnya.
Mungkin dari situlah aku mulai belajar menjadi lebih mandiri.
Belajar Mengurus Semuanya Sendiri
Salah satu hal sederhana yang paling terasa adalah urusan pakaian.
Dulu, pakaian kotor tinggal dimasukkan ke keranjang. Entah bagaimana, beberapa hari kemudian pakaian itu sudah bersih, kering, dan rapi.
Sekarang?
Aku sendiri yang harus memikirkan kapan harus mencuci, kapan menjemur, dan kapan menyetrika.
Belum lagi kalau sedang banyak pekerjaan.
Pulang kerja sudah lelah, tetapi melihat pakaian yang belum dicuci juga tidak akan membuatnya tiba-tiba bersih sendiri. ๐
Akhirnya aku belajar mengatur waktu.
Mana yang harus dikerjakan sekarang dan mana yang masih bisa ditunda.
Hal sederhana seperti itu ternyata cukup mengajarkan banyak hal.
Begitu juga dengan keuangan.
Ketika tinggal sendiri, aku mulai benar-benar memahami bahwa uang bulanan tidak boleh diperlakukan seperti sesuatu yang tidak akan pernah habis.
Aku harus belajar membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan.
Makan, transportasi, kebutuhan rumah, dan hal-hal penting lainnya harus didahulukan.
Keinginan bisa menunggu.
Karena kalau tidak pintar mengatur, bisa-bisa minggu terakhir sebelum gajian justru menjadi minggu yang paling panjang. ๐
Jadi Tukang Dadakan
Tinggal sendiri juga membuatku belajar hal-hal yang sebelumnya mungkin tidak pernah terpikirkan.
Lampu kamar mati.
Keran bermasalah.
Sesuatu di rumah rusak.
Belum lagi urusan memasang gas.
Kalau dulu mungkin tinggal memanggil orang rumah, sekarang mau tidak mau harus belajar mengurusnya sendiri.
Kadang berhasil.
Kadang harus mencari bantuan.
Tapi setidaknya aku belajar untuk tidak langsung panik ketika ada sesuatu yang rusak.
Ternyata menjadi perantau memang membuat kita punya kemampuan-kemampuan kecil yang sebelumnya tidak pernah kita sadari.
Sakit Tanpa Keluarga di Sisi
Kalau ada satu hal yang paling terasa berbeda ketika menjadi perantau, mungkin jawabannya adalah sakit.
Sakit di rumah dan sakit di perantauan punya rasa yang berbeda.
Kalau di rumah, mungkin ada ibu yang bertanya sudah makan atau belum.
Ada yang membuatkan teh hangat.
Ada yang mengingatkan minum obat.
Ada seseorang yang sekadar duduk di dekat kita saja sudah membuat perasaan lebih tenang.
Di perantauan, semuanya berbeda.
Ketika badan tidak enak, kita harus memikirkan sendiri apa yang harus dilakukan.
Mau membeli obat?
Harus keluar sendiri atau pesan.
Mau makan?
Harus mencari makanan sendiri.
Kalau terlalu lemas untuk keluar, akhirnya pesan lewat aplikasi ojek online.
Untungnya, aku bekerja di bidang kesehatan, tepatnya di bidang farmasi dan apotek. Jadi setidaknya aku cukup memahami pertolongan pertama dan obat-obatan yang biasa aku konsumsi.
Tapi tetap saja, mengetahui apa yang harus dilakukan tidak selalu membuat rasa sepi hilang.
Karena yang kadang kita butuhkan ketika sakit bukan hanya obat.
Kita juga ingin ada seseorang yang bertanya, “Kamu sudah merasa lebih baik?”
Belajar Tangguh dengan Cara Sederhana
Namun dari situ juga aku belajar menjadi lebih tangguh.
Kalau sakit, aku belajar mengenali kondisi tubuh sendiri.
Kalau membutuhkan obat, aku tahu apa yang harus kupersiapkan.
Kalau lapar tetapi tidak sanggup keluar, aku bisa memesan makanan hangat melalui aplikasi.
Hal-hal yang dulu terlihat sederhana ternyata menjadi kemampuan penting ketika kita tinggal jauh dari rumah.
Dan semakin sering mengalaminya, semakin terbiasa pula aku menghadapi semuanya.
Bukan berarti aku tidak membutuhkan orang lain.
Justru sebaliknya.
Aku semakin memahami bahwa manusia memang tidak bisa benar-benar hidup sendirian.
Menemukan Arti Teman yang Sebenarnya
Selama menjadi perantau, aku juga belajar bahwa teman bisa menjadi keluarga kedua.
Bukan dalam arti menggantikan keluarga di rumah.
Tetapi mereka menjadi orang-orang yang bisa kita cari ketika membutuhkan bantuan.
Ketika ada keadaan mendadak, temanlah yang mungkin pertama kali kita hubungi.
Ketika sedang tidak enak badan, ada yang bisa dimintai tolong membawakan sesuatu.
Ketika sedang ingin bercerita, ada orang yang mau mendengarkan.
Dan mungkin karena sama-sama hidup jauh dari keluarga, sesama perantau lebih mudah memahami rasa sepi itu.
Tidak perlu banyak menjelaskan.
Mereka tahu rasanya pulang kerja sendirian.
Tahu rasanya sakit tanpa keluarga.
Tahu rasanya ingin pulang kampung tetapi belum bisa.
Karena mereka juga merasakannya.
Saling Menjaga di Kota Orang
Ada sesuatu yang menarik dari kehidupan para perantau.
Lingkaran pertemanan mungkin tidak selalu besar.
Tapi ketika sudah menemukan orang yang benar-benar bisa dipercaya, hubungan itu terasa lebih hangat.
Saling membantu.
Saling mengingatkan.
Saling menjaga ketika salah satu sedang kesulitan.
Aku sendiri pernah merasakan bagaimana pentingnya teman ketika menjalani masa-masa sulit di perantauan.
Terutama ketika keluarga berada jauh dan suami juga berada di kota yang berbeda.
Mereka mungkin tidak bisa menyelesaikan semua masalah.
Tetapi kehadiran mereka cukup membuat kita merasa bahwa kita tidak sepenuhnya sendirian.
Lama-Lama Kota Ini Terasa Seperti Rumah Kedua
Hal lain yang tidak kusadari ketika pertama kali merantau adalah bagaimana sebuah kota yang awalnya terasa asing perlahan menjadi familiar.
Ada jalan yang awalnya tidak kukenal, sekarang sudah hafal.
Ada tempat makan yang dulu hanya kulewati, sekarang malah menjadi tempat favorit.
Ada sudut-sudut kota yang awalnya terasa asing, tetapi lama-lama justru terasa akrab.
Bahkan suara kendaraan dan keramaian kota yang dulu terasa mengganggu, akhirnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Mungkin begitulah sebuah tempat berubah menjadi rumah kedua.
Bukan karena tempat itu menggantikan rumah tempat kita dibesarkan.
Tetapi karena terlalu banyak cerita yang akhirnya tertinggal di sana.
Perasaan Pulang yang Berbeda
Menjadi perantau juga membuatku memahami bahwa ternyata ada dua jenis rasa pulang.
Ada rasa pulang ketika kembali ke kampung halaman.
Bertemu keluarga.
Melihat tempat-tempat yang sudah sangat dikenal.
Makan makanan yang mungkin sudah lama dirindukan.
Tapi ada juga rasa pulang ketika kembali ke kota tempat kita merantau setelah selesai liburan.
Aneh, bukan?
Awalnya kita begitu ingin pulang ke rumah.
Tapi setelah beberapa waktu berada di rumah, kita kembali ke kota rantau dan ternyata ada rasa lega juga.
Kamar yang kita tinggalkan.
Barang-barang yang kita kenal.
Jalan yang sudah hafal.
Tempat makan langganan.
Semuanya menunggu kita kembali.
Dan saat itulah aku sadar bahwa mungkin sekarang aku memiliki dua tempat yang sama-sama bisa kusebut rumah.
Satu adalah tempat aku dibesarkan.
Satunya lagi adalah tempat aku belajar menjadi dewasa.
Merantau Ternyata Mengubah Banyak Hal
Aku tidak pernah menyangka bahwa tinggal jauh dari keluarga akan mengajariku sebanyak ini.
Aku belajar mencuci dan mengurus rumah sendiri.
Belajar mengatur uang.
Belajar menghadapi barang rusak.
Belajar menghadapi sakit tanpa keluarga di sisi.
Belajar meminta bantuan ketika memang membutuhkannya.
Dan yang paling penting, aku belajar menghargai kehadiran orang-orang di sekitarku.
Dulu mungkin aku menganggap beberapa hal sebagai sesuatu yang biasa.
Sekarang aku tahu, tidak semua orang punya kemewahan untuk selalu mendapatkan bantuan ketika membutuhkannya.
Karena itu, aku mulai lebih menghargai teman yang bersedia membantu.
Lebih menghargai keluarga.
Lebih menghargai waktu ketika bisa pulang.
Dan mungkin, lebih menghargai diriku sendiri karena ternyata aku bisa melewati banyak hal yang dulu kukira tidak akan sanggup kujalani.
Menjadi perantau memang tidak selalu mudah.
Ada sepi.
Ada lelah.
Ada hari-hari ketika ingin sekali pulang.
Tapi di antara semua itu, ada juga sesuatu yang diam-diam tumbuh:
kemandirian.
Dan mungkin itulah salah satu hadiah terbesar yang diberikan kehidupan perantauan kepadaku.

Komentar
Posting Komentar