Dari Chat yang Tak Pernah Kubalas sampai Menjadi Suamiku
Kalau ada yang bilang jodoh bisa datang dari arah yang sama sekali tidak kita duga, mungkin dulu aku hanya akan tertawa kecil.
Aku pernah mengenal beberapa laki-laki sebelum bertemu dengannya. Ada yang sempat dekat, ada yang terlihat baik, tetapi pada akhirnya tidak ada yang benar-benar terasa cocok. Hubungan-hubungan itu berhenti begitu saja, sebagian bahkan tidak sempat sampai ke tahap yang serius.
Di keluargaku, ada pula tradisi yang masih cukup dekat dengan kehidupan orang Jawa, yaitu menghitung kecocokan pasangan berdasarkan weton. Aku sendiri sebenarnya bukan orang yang terlalu percaya dengan hitungan seperti itu. Bahkan pernah ada kisah yang membuatku semakin malas berurusan dengan urusan weton karena sebuah hubungan sebelumnya tidak berlanjut setelah dilakukan perhitungan.
Aku berpikir, kalau memang seseorang cocok denganku, seharusnya aku bisa merasakannya tanpa harus menghitung tanggal lahir.
Lalu datanglah seseorang yang cara pendekatannya justru membuatku berpikir, ini orang kenapa, sih?
Mei 2021 — Berawal dari Media Sosial
Kami pertama kali berkenalan melalui media sosial pada Mei 2021.
Lucunya, sebenarnya kami sudah saling berteman di media sosial tanpa benar-benar mengetahui siapa satu sama lain. Kami tidak bertemu secara langsung sebelumnya dan tidak pernah menyangka bahwa orang yang ada di daftar pertemanan itu nantinya akan menjadi bagian paling penting dalam hidup masing-masing.
Ternyata dia adalah teman dari seseorang yang aku kenal.
Awalnya biasa saja.
Sampai dia mulai mengirimiku pesan.
Bukan sekali.
Bukan dua kali.
Dia terus menghubungi lewat media sosial. Karena tidak terlalu mengenalnya, aku justru merasa takut dan memilih tidak membalas.
Entah bagaimana, dia bahkan sampai menghubungiku melalui email pribadi.
Di titik itu aku benar-benar berpikir, ini orang serius atau bagaimana?
Aku tidak membalas pesannya.
Kalau mengingatnya sekarang, rasanya lucu juga. Orang yang akhirnya menjadi suamiku justru dulu adalah orang yang pesannya paling sering kuhindari.
Aku tidak pernah membayangkan bahwa seseorang yang pada awalnya membuatku waspada itu justru akan menjadi orang yang kelak berdiri di sampingku saat akad nikah.
November 2021 — Pertemuan Pertama
Setelah beberapa waktu, akhirnya kami bertemu secara langsung pada November 2021.
Pertemuan itu menjadi titik yang mengubah semuanya.
Dari yang awalnya hanya berkomunikasi melalui media sosial, hubungan kami mulai menjadi lebih serius. Kami mulai mengenal satu sama lain dengan lebih dekat dan perlahan membicarakan masa depan.
Namun sejak awal, hubungan kami memang bukan hubungan yang bisa dijalani dengan mudah.
Kami berasal dari daerah yang sama, tetapi pekerjaan membuat kami berada di kota yang berbeda.
Jadi, sejak awal hubungan serius itu pun kami sudah menjalani LDR.
Pertemuan langsung hanya bisa dilakukan beberapa kali. Selebihnya, kami harus mengandalkan pesan, telepon, dan komunikasi dari jarak jauh.
Tidak selalu mudah.
Ada rasa rindu yang harus ditahan. Ada hari-hari ketika ingin bertemu tetapi keadaan tidak memungkinkan. Ada juga waktu ketika komunikasi tidak berjalan seperti yang diharapkan.
Namun anehnya, hubungan itu tetap berjalan.
Semakin lama, aku justru mulai merasa bahwa mungkin laki-laki yang dulu tidak pernah kubalas pesannya itu memang seseorang yang berbeda.
2 September 2022 — Dia Datang Bersama Keluarganya
Hubungan yang awalnya hanya bermula dari media sosial akhirnya membawa kami ke tahap yang jauh lebih serius.
Pada 2 September 2022, dia memberanikan diri membawa keluarganya bersilaturahmi ke rumahku.
Bukan sekadar datang untuk berkunjung.
Kedatangan keluarganya membawa satu maksud yang membuat hubungan kami semakin jelas: dia datang untuk meminta aku menikah dengannya.
Aku yang awalnya bahkan takut membalas pesannya, akhirnya berada di titik di mana keluarganya datang untuk memintaku menjadi bagian dari keluarga mereka.
Kalau dipikir-pikir sekarang, perjalanan kami memang agak lucu.
Berawal dari pesan yang tidak kubalas.
Berlanjut menjadi hubungan jarak jauh.
Kemudian keluarga datang untuk melamar.
12 Mei 2023 — Kami Menikah
Setelah melalui perjalanan tersebut, akhirnya kami melangsungkan akad nikah pada 12 Mei 2023.
Hari yang sebelumnya mungkin terasa begitu jauh akhirnya benar-benar datang.
Kami yang awalnya hanya saling mengenal melalui media sosial, kemudian bertemu beberapa kali karena jarak, menjalani hubungan dengan kota yang berbeda, sampai akhirnya duduk dalam satu acara akad.
Dan di sinilah bagian cerita kami yang sampai sekarang masih membuatku tersenyum sendiri.
Tentang Weton yang Dulu Tidak Terlalu Kupedulikan
Seperti yang kuceritakan di awal, keluargaku masih mengenal tradisi menghitung weton.
Aku sendiri sebenarnya tidak terlalu percaya dengan hal-hal seperti itu. Aku lebih suka menjalani hubungan berdasarkan apa yang kami rasakan dan bagaimana kami saling memperlakukan.
Tetapi karena keluarga masih memegang tradisi tersebut, akhirnya weton kami juga dihitung.
Dan ternyata...
Kami dianggap cocok.
Aku sampai merasa agak geli sendiri.
Dulu aku sudah malas mendengar soal hitungan weton karena pernah mengalami hubungan yang tidak berlanjut setelah urusan tersebut. Sekarang justru orang yang awalnya tidak pernah kubayangkan akan menjadi pasangan hidupku ternyata memiliki hitungan weton yang dianggap cocok denganku.
Tapi bagian paling menarik bukan hanya itu.
Ada satu hal lain yang membuatku semakin merasa bahwa perjalanan kami memang punya cara sendiri untuk membuatku terheran-heran.
Tanggal ketika dia pertama kali menghubungiku melalui email—yang dulu justru membuatku merasa takut karena menurutku cara pendekatannya terlalu ekstrem—ternyata berkaitan dengan tanggal akad kami.
Sampai sekarang aku masih suka berpikir, kok bisa?
Seseorang yang dulu email-nya bahkan tidak ingin kubalas, ternyata akhirnya menjadi orang yang dengannya aku mengucapkan akad.
Kalau dipikir secara logika, mungkin semuanya hanya kebetulan.
Dan aku tidak ingin mengatakan bahwa weton atau tanggal tertentu adalah penentu jodoh. Aku sendiri pun tetap bukan orang yang sepenuhnya percaya pada hal seperti itu.
Namun sebagai seseorang yang mengalaminya sendiri, aku tidak bisa menyangkal bahwa rangkaian kebetulan tersebut terasa begitu menarik.
Ternyata Jodoh Memang Bisa Datang dengan Cara yang Aneh
Perjalanan kami mengajarkanku satu hal sederhana.
Kadang seseorang yang awalnya tidak kita perhatikan justru menjadi orang yang akhirnya paling berarti.
Orang yang dulu pesannya tidak kubalas.
Orang yang dulu membuatku bertanya-tanya kenapa begitu gigih menghubungiku.
Orang yang kemudian harus menjalani hubungan jarak jauh denganku.
Orang yang datang membawa keluarganya untuk melamarku.
Dan akhirnya, orang yang berdiri di hadapanku pada 12 Mei 2023 untuk mengucapkan akad.
Aku tidak tahu apakah semua itu bisa disebut kebetulan, jodoh, atau memang bagian dari perjalanan hidup yang sudah menemukan jalannya sendiri.
Tentang weton, aku masih tetap menjadi diriku yang dulu—tidak terlalu percaya bahwa tanggal lahir bisa menentukan seseorang akan berjodoh dengan siapa.
Tetapi setelah mengalami perjalanan ini, aku belajar untuk tidak terlalu cepat menganggap sesuatu sebagai kebetulan biasa.
Karena siapa sangka, laki-laki yang dulu membuatku takut membuka email justru menjadi laki-laki yang akhirnya kupanggil suami.
Dan mungkin, memang begitulah cara jodoh bekerja.
Kadang datang dengan cara yang paling tidak kita harapkan.
Kadang dimulai dari pesan yang tidak ingin kita balas.
Lalu perlahan berubah menjadi sebuah perjalanan panjang yang tidak pernah kita rencanakan.
Sampai akhirnya kita sadar—
ternyata orang yang dulu hampir kita abaikan adalah orang yang selama ini sedang berjalan menuju kita.

Komentar
Posting Komentar