Setiap kali suami pulang dari perantauan, ada satu hal yang biasanya ikut berubah di rumah: dapur jadi lebih sibuk dari biasanya.
Bukan karena aku harus memasak makanan yang mewah. Justru beberapa makanan rumahan sederhana yang biasa kami makan terasa jauh lebih nikmat ketika akhirnya bisa duduk satu meja setelah cukup lama berjauhan.
Kalau suami pulang, aku biasanya menyiapkan beberapa masakan yang memang sudah sering ku buat. Ada sambal jengkol lengkap dengan lalapan dan telur dadar, sambal cumi pete, sampai ayam woku.
Tidak semuanya dibuat sekaligus. Biasanya aku menyesuaikan dengan keinginan dan bahan yang tersedia.
Sambal Jengkol, Lalapan, dan Telur Dadar
Salah satu menu yang sering kubuat adalah sambal jengkol.
Untuk jengkol, aku biasanya merebusnya terlebih dahulu sampai empuk. Lama merebusnya juga tidak bisa disamakan karena tergantung jengkol yang digunakan. Kalau jengkolnya tua, biasanya membutuhkan waktu lebih lama.
Supaya aromanya tidak terlalu menyengat, aku biasanya merebus jengkol bersama daun salam dan daun jeruk. Kadang aku juga menggunakan kopi.
Kalau sudah empuk dan jengkolnya cukup tua, biasanya aku tokok terlebih dahulu supaya lebih mudah disantap dan bumbunya bisa meresap.
Untuk sambalnya, aku menggunakan bawang merah, bawang putih, cabai merah, cabai rawit, dan tomat. Semuanya diblender, tetapi tidak perlu terlalu halus.
Setelah itu bumbu dimasak dengan garam, gula, dan penyedap rasa.
Satu hal yang menurutku tidak boleh ketinggalan adalah ikan teri.
Aku biasanya menggoreng terinya terlebih dahulu sampai kering. Setelah sambal matang, barulah jengkol dan ikan teri dimasukkan.
Hasilnya paling enak kalau dimakan bersama nasi hangat.
Sebagai pelengkap, biasanya aku membuat lalapan atau rebusan. Daun ubi dan labu siam termasuk yang sering kubuat. Tinggal direbus sampai matang, lalu disajikan bersama timun.
Sederhana sekali.
Tapi justru menu seperti ini yang terasa cocok untuk makan bersama di rumah.
Untuk telur dadarnya pun aku tidak membuat sesuatu yang rumit. Aku cukup mengiris bawang merah, cabai rawit, dan daun bawang, kemudian mencampurnya dengan telur dan penyedap rasa sebelum digoreng.
Kalau sudah lengkap semuanya di meja, rasanya sudah cukup untuk membuat makan jadi lahap.
Sambal Cumi Pete
Kalau sedang ingin membuat menu yang sedikit berbeda, aku biasanya memasak sambal cumi pete.
Untuk cuminya, aku biasanya menumis atau merebusnya sebentar terlebih dahulu, kemudian menyisihkannya.
Aku tidak memasak cumi terlalu lama karena tidak suka kalau teksturnya menjadi alot.
Setelah itu aku menyiapkan sambalnya.
Bahan yang kugunakan adalah cabai merah, cabai rawit, bawang merah, bawang putih, dan tomat. Bumbu tersebut biasanya kublender kasar supaya teksturnya masih terasa.
Saat memasak sambal, aku menambahkan daun jeruk untuk memberikan aroma yang lebih harum.
Kemudian pete dimasukkan dan dimasak sampai sambalnya benar-benar matang.
Setelah sambal dan pete matang, barulah cumi dimasukkan.
Menurutku, ini salah satu bagian pentingnya. Cumi tidak perlu dimasak terlalu lama setelah masuk ke sambal supaya tetap enak dan tidak berubah menjadi alot.
Menu ini biasanya sudah cukup menggugah selera hanya dengan nasi hangat.
Apalagi kalau sambalnya agak pedas.
Ayam Woku Versi Dapurku
Menu lainnya yang cukup sering kubuat ketika suami pulang adalah ayam woku.
Tapi aku punya satu kebiasaan kalau memasak ayam.
Aku harus meng ungkep ayam terlebih dahulu.
Entah kenapa aku memang tipe orang yang lebih nyaman kalau ayam sudah di ungkep sebelum dimasak dengan bumbu lainnya.
Selain membuat bumbunya lebih terasa, aku juga merasa lebih tenang karena ayamnya sudah matang dan tidak khawatir masih mentah di bagian dalam.
Untuk ayam woku, bumbu halus yang ku gunakan terdiri dari bawang merah, bawang putih, cabai rawit, cabai merah, kunyit, jahe, dan kemiri.
Setelah bumbu halus siap, aku juga menambahkan serai yang sudah di geprek dan daun jeruk.
Kalau ingin aromanya lebih wangi, daun pandan juga bisa ditambahkan. Menurutku ini opsional, tetapi aromanya memang jadi lebih harum.
Setelah bumbunya dimasak sampai matang dan harum, ayam yang sudah di ungkep dimasukkan.
Kemudian aku tambahkan tomat dan daun bawang.
Dan kalau ada kemangi, biasanya aku tidak akan melewatkannya.
Aroma kemangi yang bercampur dengan bumbu ayam woku menurutku membuat masakan ini semakin nikmat.
Memasak untuk Beberapa Hari
Kalau suami pulang dari perantauan dan akan tinggal beberapa hari, biasanya aku tidak hanya memikirkan menu untuk satu kali makan.
Aku juga sering memasak makanan yang bisa dinikmati selama beberapa hari.
Bukan berarti semua makanan harus dibuat dalam jumlah sangat banyak. Aku lebih suka menyesuaikannya supaya tetap nyaman disimpan dan dimakan kembali.
Maklum, ketika suami sedang pulang, rasanya ingin memanfaatkan waktu sebaik mungkin.
Kadang kami makan bersama.
Kadang ngobrol sambil makan.
Kadang hanya membahas hal-hal sederhana yang terjadi selama kami berjauhan.
Dan mungkin itu alasan kenapa kegiatan memasak terasa sedikit berbeda ketika dia pulang.
Aku bukan hanya sedang menyiapkan makanan.
Aku sedang menyiapkan sesuatu untuk orang yang selama ini hanya bisa kutemui lewat jarak.
Tidak Harus Mewah
Semakin lama aku menyadari bahwa makanan yang membuat bahagia tidak selalu makanan mahal atau restoran.
Kadang sambal jengkol, lalapan rebus, telur dadar, sambal cumi pete, atau ayam woku buatan sendiri sudah cukup.
Yang membuatnya terasa berbeda adalah siapa yang duduk di meja makan bersama kita.
Mungkin bagi orang lain itu hanya makanan rumahan biasa.
Tapi bagiku, ada cerita di baliknya.
Ada waktu yang ku gunakan untuk menyiapkan bahan, mengulek atau memblender bumbu, berdiri di depan kompor, dan memastikan semuanya matang.
Lalu ada momen ketika akhirnya makanan itu dimakan bersama.
Setelah lama menjalani kehidupan dengan jarak, makan satu meja ternyata bisa menjadi salah satu bentuk sederhana dari rasa rindu yang akhirnya terbayar. ❤️

Komentar
Posting Komentar