Setelah Pulang Kerja, Aku Belajar Menjadi Ibu Lagi

 


Ilustrasi suasana sederhana saat pulang kerja dan kembali menghabiskan waktu bersama anak.



Ada hari-hari ketika pulang kerja rasanya hanya ingin mandi, makan, lalu tidur.


Apalagi kalau sebelumnya mendapat shift yang cukup melelahkan. Rasanya tubuh sudah tidak punya banyak tenaga untuk melakukan apa pun.


Tapi begitu sampai rumah, ada seseorang yang biasanya sudah menungguku.


Anakku.


Buat dia, kepulanganku mungkin sederhana. Mamanya sudah pulang, berarti waktunya bersama lagi.


Sementara buatku, ada sedikit pergulatan di dalam hati.


Aku lelah.


Tapi aku juga tidak ingin melewatkan waktu bersamanya.


Ketika Tubuh Ingin Istirahat, Anak Ingin Bermain


Anak kecil tidak selalu mengerti kalau mamanya sedang lelah.


Dia hanya tahu mamanya sudah pulang.


Dan tentu saja, dia ingin bermain.


Kadang setelah berganti pakaian, aku hanya ingin duduk sebentar. Tapi tidak lama kemudian dia sudah datang membawa sesuatu atau mengajakku melakukan hal yang menurutnya menarik.


Kadang aku bisa langsung mengikutinya.


Kadang aku harus berkata,


“Tunggu sebentar ya, Mama istirahat dulu.”


Aku masih belajar menghadapi keadaan seperti itu.


Karena di satu sisi aku ingin menjadi ibu yang selalu punya waktu untuk anak.


Tapi di sisi lain, aku juga manusia yang bisa lelah.


Ada Satu Pertanyaan yang Selalu Ditunggu


Setiap kali pulang kerja, aku biasanya membawa sesuatu untuk anakku.


Tidak harus barang mahal.


Kadang buah, kue, atau yogurt kesukaannya.


Sampai akhirnya dia punya satu pertanyaan yang hampir selalu muncul setiap kali melihatku pulang.


“Mama bawa apa?”


Lucu juga.


Mungkin karena sudah terbiasa, setiap kali mendengar suara pintu atau melihatku pulang, pertanyaan itu seperti menjadi bagian dari ritual kecil kami.


Tapi ada satu kejadian yang justru membuatku tersenyum.


Suatu hari aku pulang tanpa membawa apa-apa.


Aku sudah membayangkan mungkin dia akan kecewa.


Tapi ternyata tidak.


Dia hanya bertanya seperti biasa,


“Mama bawa apa?”


Aku menjawab,


“Maaf ya, Mama lagi nggak bawa apa-apa.”


Dia hanya menjawab,


“Ohhh...”


Lalu selesai.


Tidak menangis.


Tidak marah.


Tidak merengek.


Seolah-olah dia menerima begitu saja bahwa hari itu Mamanya memang pulang dengan tangan kosong.


Entah kenapa jawaban pendek itu justru membuatku gemas.


Ternyata dia tidak selalu menuntut sesuatu.


Mungkin yang sebenarnya dia tunggu bukanlah buah, kue, atau yogurt.


Mungkin dia hanya senang ketika Mamanya pulang.


Tas Mama Pun Mau Dibawakan


Setelah aku masuk rumah, biasanya ada lagi tingkah kecilnya.


Dia suka sok kuat ingin membawakan tas kerjaku.


Padahal tasnya mungkin lebih besar daripada tubuh kecilnya. 😂


Kadang tumbler minumku juga ingin dibawakan.


Lalu belum selesai sampai di situ.


Aku masih harus membuka sepatu kerja.


Dan entah bagaimana, anak kecil ini bisa ikut sibuk.


Kadang aku sampai tertawa sendiri melihatnya.


Hal-hal seperti itu sebenarnya sederhana sekali.


Tidak ada sesuatu yang luar biasa.


Hanya seorang anak kecil yang menyambut mamanya pulang dengan caranya sendiri.


Tapi justru momen-momen kecil seperti inilah yang membuat rasa lelah setelah bekerja terasa sedikit lebih ringan.


Aku Tidak Ingin Waktu Bersama Anak Hanya Diisi Rasa Bersalah


Dulu aku sering merasa bersalah ketika tidak bisa menemani anak sepanjang hari.


Pekerjaan membuatku harus pergi.


Kadang ketika aku sedang bekerja, anak berada di rumah bersama aunty-nya.


Aku tahu dia baik-baik saja.


Aku tahu dia aman.


Tapi tetap saja ada bagian kecil dalam diriku yang bertanya-tanya, apakah seharusnya aku lebih banyak berada di rumah?


Lama-lama aku sadar, mungkin rasa bersalah itu tidak akan pernah benar-benar hilang.


Jadi daripada terus memikirkannya, aku memilih melakukan sesuatu yang masih bisa kulakukan.


Ketika berada di rumah, aku berusaha hadir.


Tidak harus berjam-jam.


Tidak harus selalu mengajak pergi.


Kadang cukup duduk bersamanya.


Menemaninya bermain.


Mendengarkan celotehnya.


Atau sekadar berada di dekatnya ketika dia melakukan sesuatu.


Anak Tidak Membutuhkan Mama yang Sempurna


Aku mulai memahami bahwa anak mungkin tidak membutuhkan seorang ibu yang selalu punya tenaga dan selalu bisa melakukan semuanya.


Dia hanya membutuhkan ibunya.


Kadang aku bermain dengannya dalam keadaan masih lelah.


Kadang aku hanya bisa menemaninya dari tempat duduk.


Kadang aku harus mengatakan bahwa Mama ingin beristirahat sebentar.


Dan ternyata tidak apa-apa.


Aku tidak harus selalu menjadi ibu yang sempurna.


Aku hanya perlu terus berusaha menjadi ibu yang hadir sesuai kemampuanku.


Ada Kebahagiaan Sederhana Setelah Pulang


Salah satu hal yang paling kusukai setelah pulang kerja adalah melihat anakku.


Setelah seharian berada di tempat kerja, bertemu banyak orang dan mengerjakan berbagai hal, akhirnya aku kembali ke rumah.


Dan di sana ada anak kecil yang sudah menungguku.


Kadang dia langsung menghampiri.


Kadang dia hanya melihatku lalu kembali melakukan kegiatannya.


Tapi tetap saja, kehadirannya membuat rumah terasa berbeda.


Lelah yang tadi terasa berat perlahan menjadi lebih ringan.


Mungkin bukan karena lelahnya benar-benar hilang.


Tapi karena aku tahu untuk siapa aku terus menjalani semua ini.


Aku Belajar Menikmati Waktu yang Sedikit


Karena aku bekerja dan menjalani sistem shift, aku tidak selalu punya waktu panjang bersama anak.


Jadi sekarang aku mencoba lebih menghargai waktu yang ada.


Kalau hanya punya satu jam, ya satu jam itu kami nikmati.


Kalau hari libur dan tubuhku masih membutuhkan istirahat, aku tetap mengambil waktu untuk tidur.


Setelah cukup beristirahat, aku kembali menemaninya.


Aku tidak ingin memaksakan diri sampai kelelahan hanya karena merasa harus menjadi ibu yang sempurna.


Sebab menurutku, ibu juga perlu menjaga dirinya sendiri.


Kalau aku terlalu lelah, bagaimana aku bisa terus memberikan yang terbaik untuk anak?


Mungkin Inilah Kehidupan yang Sedang Kami Jalani


Aku bekerja.


Suamiku bekerja di kota yang berbeda.


Anakku tumbuh bersama kami dalam keadaan seperti ini.


Tidak selalu mudah.


Ada rasa sedih.


Ada rasa bersalah.


Ada rasa lelah.


Tapi ada juga banyak hal yang patut disyukuri.


Aku masih memiliki pekerjaan.


Anakku sehat dan tumbuh dengan baik.


Masih ada keluarga yang membantu.


Dan ketika aku pulang, masih ada seseorang yang membuatku ingin segera membuka pintu rumah.


Mungkin suatu hari nanti keadaan akan berubah.


Mungkin kami bisa tinggal bersama.


Mungkin aku akan punya lebih banyak waktu di rumah.


Tapi untuk sekarang, aku ingin menikmati kehidupan yang sedang kami jalani.


Karena anakku tidak akan selalu berusia seperti sekarang.


Dia akan terus tumbuh.


Dan suatu hari nanti, mungkin dia tidak lagi berlari menghampiriku seperti sekarang.


Jadi selama masih ada kesempatan, aku ingin menikmati hal-hal kecil itu.


Pelukan.


Celotehan.


Permintaan bermain.


Pertanyaan sederhana seperti “Mama bawa apa?”


Bahkan tingkahnya yang ingin membawakan tas dan tumblerku atau sibuk membantu membuka sepatu kerja.


Karena ternyata, hal-hal yang hari ini terasa melelahkan bisa menjadi hal yang paling kita rindukan ketika semuanya sudah berubah.


Dan sekarang aku sadar, mungkin bukan isi tas yang sebenarnya dia tunggu.


Dia hanya menunggu Mamanya pulang. ❤️

Komentar