Ilustrasi: membaca etiket obat sebelum menggunakannya.
Pernah nggak, setelah menerima obat dari apotek, kamu langsung memasukkannya ke dalam tas tanpa membaca etiketnya dengan teliti?
Atau mungkin kamu hanya melihat tulisan seperti “3 kali sehari”, lalu langsung berpikir, “Oh, berarti pagi, siang, dan malam.”
Kalau pernah, kamu tidak sendirian.
Sebagai seorang asisten apoteker, aku cukup sering melihat bagaimana orang lebih memperhatikan nama obat atau jumlah tabletnya daripada informasi yang tertulis lengkap pada etiket.
Padahal, etiket obat bukan sekadar kertas kecil yang ditempel pada kemasan.
Di sana ada informasi penting yang membantu kita menggunakan obat sesuai dengan petunjuk yang diberikan.
Karena itu, sebelum obat masuk ke mulut, menurutku ada baiknya kita membiasakan diri membaca etiket terlebih dahulu.
1. Jangan Langsung Minum, Cek Nama Anda Terlebih Dahulu
Hal pertama yang sebaiknya diperhatikan ketika menerima obat adalah nama pasien yang tertulis pada etiket.
Pastikan nama dan ejaannya benar serta obat tersebut memang ditujukan untuk kita.
Mungkin terlihat sepele, tetapi menurutku ini merupakan kebiasaan sederhana yang penting.
Apalagi ketika kondisi apotek sedang ramai dan ada banyak resep serta obat yang harus disiapkan. Sebagai pasien, kita juga bisa ikut memastikan bahwa obat yang diterima memang milik kita.
Jadi, jangan langsung memasukkan obat ke tas.
Luangkan beberapa detik untuk melihat nama pada etiket.
Kalau ada yang terasa tidak sesuai, jangan langsung diminum. Tanyakan kepada petugas apotek atau apoteker terlebih dahulu.
Menurutku, bertanya bukan berarti merepotkan.
Lebih baik memastikan terlebih dahulu daripada menyesal setelah obat diminum.
2. Jangan Hanya Melihat Nama Obat
Setelah memastikan nama pasien, lihat juga nama obat yang tertulis pada etiket.
Jangan hanya mengandalkan bentuk atau warna obat.
Beberapa obat bisa terlihat mirip, sementara kandungan dan penggunaannya berbeda.
Kalau mendapatkan obat yang belum pernah digunakan sebelumnya, aku justru menyarankan untuk tidak malu bertanya.
“Ini obat apa?”
“Untuk apa?”
“Cara minumnya bagaimana?”
Pertanyaan sederhana seperti itu justru bisa membantu kita memahami obat yang sedang digunakan.
Selain nama obat, perhatikan juga informasi mengenai kekuatan atau kandungan obat jika tercantum pada kemasan.
Jangan hanya mengenali obat berdasarkan mereknya.
3. “Tiga Kali Sehari” Tidak Selalu Berarti Sarapan, Makan Siang, dan Makan Malam
Nah, ini salah satu hal yang cukup sering disalahpahami.
Ketika pada etiket tertulis 3 kali sehari, sebagian orang langsung mengartikannya sebagai:
pagi setelah sarapan, siang setelah makan siang, dan malam setelah makan malam.
Padahal, untuk obat yang memang harus digunakan dengan interval teratur, prinsipnya adalah memberikan jarak waktu yang sesuai sepanjang 24 jam.
Secara umum:
Aturan penggunaan Interval umum Contoh jadwal
1 kali sehari sekitar 24 jam 07.00
2 kali sehari sekitar 12 jam 07.00 dan 19.00
3 kali sehari sekitar 8 jam 06.00, 14.00, dan 22.00
4 kali sehari sekitar 6 jam 06.00, 12.00, 18.00, dan 24.00
Namun, tabel tersebut bukan berarti semua obat harus dipaksakan mengikuti jam tersebut.
Ada obat yang mempunyai petunjuk khusus berkaitan dengan makanan, waktu tidur, kondisi pasien, atau karakteristik obatnya.
Jadi, jangan mengubah jadwal minum obat sendiri hanya karena melihat tabel.
Ikuti etiket dan petunjuk tenaga kesehatan.
Kalau tulisan pada etiket tidak jelas, tanyakan kepada apoteker.
4. “Sebelum Makan” dan “Sesudah Makan” Jangan Dianggap Sama
Tulisan sebelum makan dan sesudah makan juga bukan sekadar formalitas.
Waktu penggunaan obat dapat berhubungan dengan penyerapan obat maupun toleransi tubuh terhadap obat tersebut.
Ada obat yang memang digunakan ketika lambung kosong.
Ada juga obat yang dianjurkan digunakan setelah makan.
Karena itu, jangan mengganti aturan tersebut hanya karena kita merasa lebih nyaman meminumnya pada waktu lain.
Dan jangan menganggap semua obat yang tertulis “sebelum makan” otomatis harus diminum dengan jarak waktu yang sama, begitu juga dengan “sesudah makan”.
Aturannya bisa berbeda tergantung jenis obatnya.
Kalau kamu bingung dengan maksud tulisan tersebut, tanyakan kepada apoteker atau dokter.
Jangan menebak.
5. Jangan Mengukur Obat Sirup dengan Sendok Dapur
Ini juga salah satu hal kecil yang sering dianggap tidak penting.
Ketika mendapatkan obat sirup, terkadang orang menggunakan sendok teh atau sendok makan yang ada di dapur karena sendok takarnya hilang.
Padahal, ukuran sendok rumah tangga tidak selalu sama.
Sendok yang terlihat seperti satu sendok teh belum tentu memiliki volume yang tepat.
Karena itu, kalau obat diberikan bersama sendok takar atau gelas takar, gunakan alat tersebut.
Misalnya pada etiket tertulis 5 mL, ukur menggunakan alat takar yang memiliki ukuran tersebut.
Jangan hanya menuangkan obat kira-kira sampai terlihat seperti satu sendok.
Dan kalau alat takarnya hilang?
Jangan menebak-nebak.
Tanyakan kepada apoteker alat ukur yang tepat untuk obat tersebut.
6. Baca Peringatan dan Perhatian
Kadang kita terlalu fokus pada aturan minum sampai lupa membaca bagian peringatan.
Padahal, beberapa obat memiliki perhatian khusus.
Misalnya ada obat tertentu yang dapat menyebabkan kantuk sehingga kita perlu berhati-hati ketika melakukan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi.
Ada juga obat yang memiliki perhatian khusus untuk kondisi tertentu atau ketika digunakan bersama obat lain.
Karena itu, kalau pada kemasan terdapat bagian peringatan atau perhatian, jangan langsung dilewati.
Kalau tidak mengerti maksudnya, tanyakan.
Tidak perlu merasa malu hanya karena tidak memahami istilah medis atau farmasi.
Memang bukan semua orang harus mengerti istilah tersebut.
7. Jangan Lupa Melihat Tanggal Kedaluwarsa
Sebelum menggunakan obat, biasakan juga memeriksa tanggal kedaluwarsa.
Perhatikan pula kondisi kemasannya.
Kalau kemasan rusak, informasi pada label tidak terbaca, atau obat sudah melewati tanggal kedaluwarsa, jangan asal digunakan.
Obat juga sebaiknya disimpan sesuai petunjuk pada kemasan.
Jangan memindahkan semua obat ke satu wadah tanpa mengetahui lagi nama dan aturan penggunaannya.
Kalau obat masih berada dalam kemasan aslinya, informasi penting seperti nama, dosis, dan tanggal kedaluwarsa akan lebih mudah diperiksa kembali.
8. Jangan Mencampur Semua Obat dalam Satu Wadah
Aku juga cukup menyarankan untuk tidak mencampurkan berbagai macam obat ke dalam satu wadah tanpa identitas yang jelas.
Bayangkan kalau ada beberapa tablet dengan bentuk dan warna yang hampir sama.
Ketika semuanya sudah tercampur, kita bisa kesulitan membedakan mana obat yang satu dan mana yang lainnya.
Karena itu, sebisa mungkin simpan obat dalam kemasan aslinya atau sesuai petunjuk penyimpanan yang diberikan.
Kalau kamu mendapatkan beberapa obat sekaligus dan tidak yakin bagaimana cara menyimpannya, tanyakan kepada apoteker.
9. Kalau Tidak Mengerti, Bertanya Itu Boleh
Ini mungkin bagian yang paling ingin aku tekankan.
Kita tidak harus memahami semua istilah pada etiket obat.
Kalau ada tulisan yang tidak dimengerti, tanyakan.
Kalau tidak yakin kapan obat harus diminum, tanyakan.
Kalau tidak tahu cara menggunakan obat sirup, tanyakan.
Kalau bingung apakah obat boleh digunakan bersama obat lain, tanyakan.
Sebagai asisten apoteker, menurutku pertanyaan seperti itu jauh lebih baik daripada pasien pulang dengan membawa obat tetapi tidak benar-benar memahami cara menggunakannya.
Jangan merasa takut dianggap tidak tahu.
Memang tugas tenaga kesehatan juga membantu menjelaskan hal-hal yang belum dipahami pasien.
Dari Pengalamanku Bekerja sebagai Asisten Apoteker
Bekerja sebagai asisten apoteker membuatku semakin sadar bahwa penggunaan obat bukan hanya soal “minum obat lalu selesai.”
Ada banyak hal kecil yang perlu diperhatikan.
Nama pasien.
Nama obat.
Dosis.
Frekuensi penggunaan.
Waktu minum.
Cara penggunaan.
Peringatan.
Tanggal kedaluwarsa.
Sampai cara penyimpanannya.
Semuanya mungkin terlihat sederhana.
Tetapi justru hal-hal sederhana seperti itulah yang sering terlewat ketika seseorang sedang terburu-buru.
Aku sendiri kalau mendapatkan obat untuk keluarga atau anak, tetap berusaha membacanya dengan teliti.
Pengetahuan tentang obat bukan alasan untuk menjadi sembarangan.
Justru menurutku, semakin kita tahu, seharusnya semakin berhati-hati.
Karena setiap obat memiliki aturan penggunaan masing-masing.
Jangan Malu Membaca Etiket
Pada akhirnya, aku tidak berharap semua orang harus menghafal istilah farmasi.
Tidak perlu.
Yang paling penting adalah membiasakan diri melakukan satu hal sederhana:
Baca sebelum minum.
Pastikan nama kita benar.
Lihat nama obatnya.
Periksa aturan pakainya.
Perhatikan waktu penggunaannya.
Gunakan alat takar yang sesuai untuk obat cair.
Baca peringatan.
Cek tanggal kedaluwarsa.
Dan kalau ada sesuatu yang tidak dimengerti, tanyakan kepada apoteker atau dokter.
Jangan merasa harus tahu semuanya sendiri.
Karena menurutku, menjadi pasien yang cerdas bukan berarti harus bisa menjelaskan semua tentang obat.
Menjadi pasien yang cerdas berarti mau memperhatikan, mau bertanya, dan tidak asal menggunakan obat.
Jadi, lain kali ketika mendapatkan obat dari apotek, jangan langsung memasukkannya ke tas.
Luangkan beberapa menit.
Baca etiketnya.
Karena kadang, informasi penting justru tertulis pada selembar kertas kecil yang sering kita abaikan.
---
Catatan: Tulisan ini merupakan edukasi umum dan pengalaman penulis sebagai asisten apoteker, bukan pengganti konsultasi dokter atau apoteker. Aturan penggunaan obat dapat berbeda tergantung jenis obat dan kondisi pasien. Selalu ikuti etiket, resep, dan petunjuk tenaga kesehatan.

Komentar
Posting Komentar