Di Usia 2 Tahun 3 Bulan, Anakku Mulai Belajar Mandiri



Ilustrasi momen seorang ibu mendampingi anak belajar mandiri.



Ada banyak hal kecil yang membuatku sadar bahwa anak ternyata tumbuh jauh lebih cepat daripada yang kita sadari.

Anakku sekarang berusia 2 tahun 3 bulan. Belakangan ini, aku mulai melihat satu per satu kemampuan baru yang dia miliki. Salah satunya adalah ketika dia mulai belajar menggunakan toilet sendiri.

Aku mulai mengenalkan toilet training dengan cara yang menurutku paling sederhana.

Untuk aktivitas sehari-hari di rumah, aku mulai tidak memakaikannya pampers. Pampers masih kupakai ketika kami bepergian atau saat tidur malam karena aku memang belum memasang perlak di kasur.

Awalnya tentu tidak langsung berhasil.

Namanya juga anak kecil yang sedang belajar. Beberapa kali dia masih buang air kecil sembarangan di rumah. Jujur, sebagai ibu pasti ada rasa kesal ketika baru saja membersihkan sesuatu lalu harus membersihkannya lagi.

Tapi aku berusaha untuk tidak memarahinya.

Aku tidak ingin toilet menjadi sesuatu yang membuatnya takut. Bagiku, dia sedang belajar mengenali tubuhnya sendiri dan memahami bahwa ketika ingin buang air kecil atau buang air besar, ada tempat yang bisa digunakan.

Jadi aku mencoba mengatakannya dengan lembut.

“Kalau mau pipis, bilang Mama, ya. Kita ke WC. Kalau takut, Mama temani.”

Kadang aku juga mengajaknya ke toilet setiap beberapa jam untuk buang air kecil. Aku membiasakannya melihat dan memahami bagaimana menggunakan toilet, bukan hanya menyuruhnya pergi sendiri.

Pelan-pelan dia mulai mengerti.

Dan ternyata perkembangannya jauh lebih cepat daripada yang kubayangkan.

Suatu hari dia tiba-tiba membuka celananya dan berkata,

“Mau pipis dong, Maa.”

Aku langsung mengajaknya ke toilet.

Rasanya senang sekali mendengar dia sudah mulai bisa mengatakan kebutuhannya sendiri.

Yang lebih membuatku kaget, beberapa waktu kemudian dia bahkan sudah bisa pergi ke toilet sendiri.

Tiba-tiba dari dalam kamar mandi terdengar suaranya.

“Sudah pipisnya, Ma. Basuh dong.”

Aku yang mendengarnya langsung tersenyum.

Sesederhana itu.

Tapi sebagai ibu, rasanya luar biasa.

Dari yang awalnya masih sering pipis sembarangan, sekarang dia sudah mulai memahami kapan tubuhnya ingin buang air kecil dan bisa pergi ke toilet sendiri.

Untuk buang air besar pun dia sudah mulai bisa memberi tahu kalau perutnya terasa sakit.

Dia juga tidak takut untuk jongkok di toilet. Hanya saja, dia masih meminta aku menemaninya.

Biasanya aku berdiri di depan pintu kamar mandi dan menunggu sampai dia selesai.

Aku tidak keberatan.

Karena mungkin bagi dia, keberadaan Mama di depan pintu membuatnya merasa aman.

Dan menurutku, mandiri bukan berarti anak harus melakukan semuanya sendirian.

Kadang mereka hanya membutuhkan kita untuk berada tidak jauh dari mereka, sampai akhirnya mereka merasa cukup berani untuk melakukannya sendiri.

Aku Belajar untuk Tidak Terburu-buru

Dari pengalaman ini, aku juga belajar bahwa setiap anak punya prosesnya masing-masing.

Aku tidak ingin mengatakan bahwa anak usia tertentu harus sudah bisa melakukan hal tertentu. Karena setiap anak tumbuh dengan kecepatan yang berbeda.

Yang bisa kulakukan sebagai ibu hanyalah mengenalkan, menemani, mengingatkan, dan memberikan kesempatan.

Ketika dia gagal, aku mencoba tidak membuatnya merasa bersalah.

Ketika dia berhasil, aku memberikan apresiasi.

Karena ternyata anak kecil bisa memahami jauh lebih banyak daripada yang kita kira.

Dan sekarang, setiap kali dia mengatakan,

“Mau pipis, Maa.”

atau,

“Sudah pipisnya, Ma.”

aku selalu merasa ada sedikit rasa bangga yang sulit dijelaskan.

Bukan karena dia sudah bisa pergi ke toilet sendiri.

Tapi karena aku melihat prosesnya.

Melihat bagaimana dia mencoba.

Melihat bagaimana dia sempat gagal.

Lalu perlahan memahami.

Mungkin bagi orang lain itu hanya hal kecil.

Tapi bagi seorang ibu, melihat anaknya belajar satu kemampuan baru adalah sebuah pencapaian yang rasanya layak dirayakan. ❤️

Komentar