Tetap Romantis Walau LDM: Hal-Hal Kecil yang Membuat Hubungan Tetap Hangat

 


Tetap dekat, meski jarak sedang memisahkan.



Menjalani hubungan jarak jauh dengan suami ternyata bukan hanya soal menahan rindu.


Ada hari ketika semuanya terasa biasa saja. Aku bisa menjalani rutinitas, bekerja, mengurus anak, mengurus rumah, lalu tidur seperti hari-hari lainnya.


Tapi ada juga hari ketika rasa lelah datang bersamaan dengan rasa rindu.


Suami berada jauh. Aku menjalani banyak hal di rumah bersama anak. Ketika sedang capek, kadang rasanya ingin sekali punya seseorang di samping untuk sekadar diajak bicara atau dipeluk.


Sayangnya, LDM membuat hal sesederhana itu tidak selalu bisa dilakukan.


Dari situ aku belajar bahwa menjalani hubungan jarak jauh membutuhkan usaha dari dua orang. Bukan berarti setiap hari harus romantis seperti pasangan yang baru menikah. Justru menurutku, hubungan tetap hangat karena ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang terus dilakukan meskipun jarak memisahkan.


Tetap Memanggil dengan Panggilan Sayang


Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi buatku penting.


Aku tetap suka memanggil suami dengan “sayang” atau “sayangkuu”.


Meskipun sudah menikah dan sudah terbiasa menjalani rutinitas bersama, aku tidak ingin panggilan seperti itu hilang begitu saja.


Apalagi ketika LDM, komunikasi kami sebagian besar dilakukan melalui ponsel.


Kadang percakapan sehari-hari hanya berisi hal-hal seperti anak sudah makan atau belum, ada kebutuhan rumah apa, pekerjaan bagaimana, dan berbagai urusan lainnya.


Kalau tidak hati-hati, obrolan pasangan bisa berubah seperti percakapan dua orang yang sedang mengurus pekerjaan rumah.


Padahal kami bukan hanya pasangan dalam mengurus rumah dan anak.


Kami juga tetap suami dan istri.


Jadi sesekali memanggil dengan “sayang” atau “sayangkuu” menjadi cara kecil untuk mengingatkan bahwa di balik semua kesibukan itu, masih ada hubungan yang perlu dijaga.


Jangan Hanya Membicarakan Anak dan Urusan Rumah


Karena sudah memiliki anak, tentu banyak sekali hal yang kami bicarakan berkaitan dengannya.


Anak makan apa.


Sedang melakukan apa.


Ada kebutuhan apa.


Besok harus melakukan apa.


Semua itu memang penting.


Tetapi menurutku, jangan sampai setiap kali menelepon, pembicaraan hanya berputar di sekitar anak dan urusan rumah.


Kami tetap perlu membicarakan hal-hal sebagai pasangan.


Bisa bercanda, menceritakan kejadian lucu hari itu, membicarakan sesuatu yang sedang kami sukai, atau sekadar bertanya bagaimana hari masing-masing.


Tidak harus selalu obrolan serius.


Kadang percakapan receh justru yang membuat kami merasa dekat.


Saling Memberi Kabar


Aku juga merasa memberi kabar merupakan bentuk perhatian yang sederhana.


Tidak berarti harus terus-menerus mengirim pesan atau menanyakan keberadaan pasangan setiap saat.


Aku juga mengerti kalau suami sedang bekerja dan tidak selalu bisa memegang ponsel.


Tetapi pesan sederhana seperti,


“Sudah sampai, sayang.”


atau


“Aku lagi istirahat dulu.”


bisa membuat pasangan merasa dilibatkan dalam keseharian kita.


Tidak perlu menunggu ditanya baru memberi kabar.


Sesekali memberikan kabar terlebih dahulu juga bisa menjadi bentuk perhatian.


Kirim Foto dari Keseharian


Ketika pasangan jauh, hal-hal kecil yang biasanya dianggap biasa justru bisa menjadi sesuatu yang menyenangkan.


Aku bisa mengirim foto anak.


Foto makanan.


Foto ketika sedang pergi.


Atau foto hal kecil yang menurutku menarik.


Mungkin bagi orang yang melihatnya itu tidak istimewa.


Tetapi untuk seseorang yang sedang jauh, foto seperti itu membuatnya sedikit merasa ikut berada di rumah.


Jarak memang tidak bisa dihilangkan.


Namun kita bisa membuat pasangan tetap merasa menjadi bagian dari keseharian kita.


Tetap Luangkan Waktu untuk Berdua


LDM membuat waktu bersama menjadi terbatas.


Karena itu, kalau keadaan memungkinkan, aku tetap ingin punya waktu untuk berbicara dengan suami sebagai pasangan.


Tidak harus berjam-jam.


Tidak harus melakukan sesuatu yang istimewa.


Kadang cukup menelepon sambil masing-masing melakukan aktivitas.


Yang penting ada waktu ketika kami benar-benar memperhatikan satu sama lain.


Menurutku, hubungan juga membutuhkan waktu.


Bukan hanya dicari ketika sedang ada masalah.


Sesekali Kirim Hadiah Kecil


Kalau pasangan sedang jauh, sesekali memberikan hadiah juga bisa menjadi salah satu cara menunjukkan perhatian.


Dan hadiah itu tidak perlu mewah.


Tidak harus sesuatu yang mahal.


Bisa makanan kesukaannya, barang kecil yang sedang dibutuhkan, atau sesuatu yang tiba-tiba mengingatkan kita kepadanya.


Yang penting bukan harganya.


Tetapi perhatian di baliknya.


Ada pesan sederhana yang seolah ikut dikirim bersama hadiah tersebut:


“Aku memang jauh, tapi aku tetap memikirkanmu.”


Menurutku, perhatian kecil seperti itu bisa membuat jarak terasa sedikit lebih pendek.


Tetap Rayakan Momen Spesial


Ada momen-momen tertentu yang rasanya ingin sekali dilewati bersama pasangan.


Ulang tahun.


Anniversary.


Hari spesial.


Atau bahkan momen sederhana yang sebenarnya tidak perlu dirayakan besar-besaran.


Kalau suami sedang pulang, tentu aku akan lebih senang kalau bisa merayakannya bersama.


Tidak harus pergi ke tempat mahal.


Makan bersama, jalan-jalan, membeli kue, atau sekadar menghabiskan waktu berdua juga sudah cukup.


Tapi bagaimana kalau sedang LDM dan ternyata tidak bisa bertemu?


Menurutku, jangan langsung membiarkan momennya lewat begitu saja.


Kita tetap bisa membuatnya terasa hangat.


Bisa dengan video call, mengirim hadiah, mengirim makanan kesukaan, atau membuat kejutan kecil dari jauh.


Kalau memungkinkan, kita juga bisa meminta bantuan teman atau orang yang kita kenal di dekat pasangan untuk ikut merayakannya.


Misalnya meminta teman mengantarkan kue atau makanan kesukaannya.


Memang kita tidak bisa hadir secara langsung.


Tetapi setidaknya pasangan tetap bisa merasakan bahwa kita ikut hadir dalam momen tersebut.


Menurutku, itu justru manis.


Karena meskipun tubuh kita tidak berada di tempat yang sama, kita masih berusaha membuat pasangan merasa ditemani.


Jangan Menunggu Momen Besar untuk Bersikap Romantis


Aku juga belajar bahwa romantis tidak selalu berarti hadiah mahal atau kejutan besar.


Kadang romantis itu sesederhana bertanya,


“Sudah makan belum, sayang?”


Atau mengingatkan untuk istirahat.


Mengirim pesan ketika tiba-tiba teringat.


Mengirim foto anak.


Mengirim makanan kesukaan.


Atau sekadar mengatakan bahwa kita sedang rindu.


Hal-hal kecil seperti itu mungkin terlihat sepele.


Tetapi ketika pasangan sedang jauh, perhatian kecil justru bisa terasa lebih berarti.


Ketika Suami Pulang, Nikmati Waktunya


Kalau suami akhirnya pulang setelah lama berjauhan, aku ingin menikmati waktu tersebut.


Tidak harus selalu membuat rencana besar.


Bisa makan bersama.


Jalan-jalan bersama anak.


Menonton di rumah.


Bercanda.


Atau hanya menikmati waktu berdua tanpa melakukan sesuatu yang istimewa.


Karena setelah lama hanya bisa berbicara melalui layar ponsel, berada di tempat yang sama saja sudah menjadi sesuatu yang menyenangkan.


Aku juga tidak ingin seluruh waktu ketika suami pulang habis untuk urusan rumah.


Kalau ada kesempatan, aku ingin menikmati momen sebagai pasangan.


Tetap Bilang “I Love You”


Ini mungkin salah satu hal paling sederhana yang ingin tetap aku pertahankan.


Sebelum mengakhiri percakapan atau telepon, aku suka mengatakan:


“I love you.”


Kadang ditambah,


Sayangkuu.”


Mungkin terdengar sederhana.


Tapi menurutku, tidak ada salahnya mengatakan kepada pasangan bahwa kita mencintainya.


Kadang kita berpikir pasangan sudah tahu.


Tentu mungkin dia tahu.


Tetapi mendengarnya secara langsung tetap terasa berbeda.


Semakin lama sebuah hubungan berjalan, bukan berarti kita semakin tidak perlu menunjukkan rasa sayang.


Justru menurutku, hubungan yang sudah lama tetap membutuhkan perhatian.


LDM Mengajarkan Aku Bahwa Cinta Juga Butuh Usaha


Menjalani LDM memang tidak selalu mudah.


Ada rasa rindu.


Ada hari ketika ingin ditemani tetapi hanya bisa melihat wajah pasangan melalui layar.


Ada saat ketika keduanya sama-sama lelah sehingga percakapan tidak sebanyak biasanya.


Tapi aku belajar bahwa hubungan tidak harus sempurna setiap hari untuk tetap hangat.


Yang penting adalah tetap berusaha.


Tetap memberi kabar.


Tetap memanggil dengan panggilan sayang.


Tetap menyempatkan waktu untuk berbicara.


Tetap mengirim perhatian kecil.


Sesekali memberikan hadiah.


Tetap merayakan momen spesial meskipun dari jauh.


Dan ketika akhirnya bisa bertemu, jangan lupa menikmati waktu bersama.


Karena menurutku, LDM bukan hanya tentang bagaimana kita bertahan menghadapi jarak.


Tetapi juga tentang bagaimana kita tetap membuat pasangan merasa dicintai meskipun tidak berada di sampingnya.


Kadang cinta itu hanya berupa pesan singkat.


Kadang berupa foto.


Kadang berupa makanan atau hadiah kecil yang dikirim dari jauh.


Kadang berupa bantuan seorang teman untuk membuat kejutan ketika kita tidak bisa hadir.


Kadang hanya panggilan sederhana:


Sayangkuu...”


Dan sebelum telepon ditutup, tetap mengatakan:


“I love you.”


Jarak memang memisahkan tempat.


Tetapi bukan berarti harus memisahkan kehangatan. ❤️


Catatan: Tulisan ini merupakan pengalaman dan pandangan pribadi penulis mengenai menjalani hubungan jarak jauh. Setiap pasangan memiliki kondisi dan cara berkomunikasi yang berbeda.

Komentar