Aku Suka Membuat Cerita, Tapi Aku Tidak Pandai Menulis






Aku sering merasa sedikit aneh ketika mengatakan bahwa aku sedang menulis novel.


Bukan karena aku tidak suka menulis. Justru sebaliknya, aku suka sekali membuat cerita. Hanya saja, kalau ditanya apakah aku pandai menulis, jawabanku mungkin sederhana: belum.


Aku tidak terbiasa menulis cerita panjang dari halaman kosong. Aku juga bukan orang yang sejak awal sudah tahu bagaimana membuat paragraf yang bagus, memilih kata yang tepat, atau membuat dialog terdengar seperti percakapan sungguhan.


Yang biasanya aku punya justru adegan.


Aku bisa tiba-tiba membayangkan seorang tokoh sedang berdiri di tengah hujan. Aku tahu apa yang ingin terjadi setelahnya. Aku tahu bagaimana perasaan tokohnya, siapa yang akan datang, bahkan kadang sudah membayangkan ekspresi wajah mereka.


Aku hanya sering tidak tahu bagaimana cara menuangkan semua bayangan itu menjadi tulisan.


Aku Lebih Pandai Membayangkan Adegan


Kalau sedang membuat cerita, biasanya aku tidak memulainya dengan kalimat yang indah.


Aku mulai dari sesuatu yang sangat sederhana.


Misalnya, aku ingin membuat adegan seorang perempuan bertemu kembali dengan seseorang dari masa lalunya.


Di kepalaku sudah ada gambaran suasananya.


Aku tahu mereka harus bertemu secara tidak sengaja. Aku tahu si perempuan awalnya tidak ingin menunjukkan bahwa dia masih terluka. Aku tahu laki-laki itu seharusnya terlihat tenang, tetapi sebenarnya menyimpan banyak hal.


Masalahnya muncul ketika aku harus menuliskannya.


Aku bisa tahu apa yang ingin terjadi, tetapi bingung bagaimana membuat pembaca ikut merasakan adegan tersebut.


Akhirnya, aku sering meminta bantuan AI.


Aku menjelaskan adegannya dengan caraku sendiri, kemudian meminta bantuan untuk mengembangkannya menjadi sebuah tulisan.


Kadang hasilnya sesuai dengan yang kubayangkan.


Kadang juga tidak.


Ada kalanya tulisannya memang terlihat bagus, tetapi setelah ku baca lagi, aku merasa, “Bukan seperti ini yang aku mau.”


Akhirnya aku menjelaskan lagi.


Aku ubah bagian tertentu. Aku tambahkan adegan yang kurang. Aku minta dialognya dibuat berbeda. Kadang aku bahkan mengulanginya beberapa kali sampai hasilnya lebih mendekati bayangan yang ada di kepalaku.


Jadi, Apakah Aku Bisa Menulis Novel?


Kalau maksudnya menulis novel sepenuhnya sendiri dari awal sampai akhir tanpa bantuan, mungkin jawabannya belum.


Aku masih sangat bergantung pada bantuan AI.


Aku tidak ingin berpura-pura bahwa semua novel yang kubuat lahir begitu saja dari kemampuanku merangkai kata.


Aku masih belajar.


Bahkan bisa dibilang, aku masih belajar memahami bagaimana sebuah cerita seharusnya ditulis.


Tapi ada satu hal yang membuatku tetap ingin mencoba.


Aku punya banyak cerita di kepala.


Ada karakter yang ingin ku buat.


Ada hubungan antar tokoh yang ingin ku ceritakan.


Ada adegan yang ingin kulihat menjadi bagian dari sebuah novel.


Dan rasanya sayang kalau semua itu hanya berhenti sebagai bayangan di kepala.


Jadi aku mencoba mencari cara supaya cerita-cerita itu bisa keluar.


Untuk saat ini, salah satu cara yang paling membantuku adalah menggunakan AI.


Kadang Aku Malu Mengakuinya


Ada saat-saat ketika aku merasa minder melihat penulis lain.


Mereka bisa menulis ribuan kata dengan lancar. Mereka tahu bagaimana membangun suasana. Dialog mereka terasa alami. Bahkan pemilihan katanya terlihat sederhana, tetapi tetap enak dibaca.


Sementara aku bisa menghabiskan waktu cukup lama hanya untuk memikirkan bagaimana menjelaskan satu adegan.


Kadang aku berpikir, mungkin aku memang bukan penulis.


Mungkin aku hanya orang yang suka membuat cerita.


Tapi semakin lama aku memikirkannya, aku mulai merasa bahwa mungkin tidak apa-apa.


Aku tidak harus langsung menjadi penulis hebat.


Aku juga tidak harus berpura-pura sudah menguasai semuanya.


Aku boleh menjadi seseorang yang sedang belajar.


Dari Fizzo dan NovelToon


Aku kemudian mencoba membawa cerita-cerita yang ku buat ke platform seperti Fizzo dan NovelToon.


Di sana aku mulai merasakan bahwa membuat novel ternyata jauh lebih rumit daripada sekadar mempunyai ide.


Sebuah cerita harus terus berjalan.


Karakter harus tetap konsisten.


Setiap bab harus memiliki sesuatu yang membuat pembaca ingin melanjutkan.


Belum lagi ketika membaca kembali tulisan sendiri dan menemukan bagian yang terasa aneh.


Ada dialog yang terlalu kaku.


Ada paragraf yang terlalu panjang.


Ada adegan yang ternyata kurang kuat.


Dan masih banyak hal lainnya yang harus kupelajari.


Tetapi dari situlah aku mulai mengetahui bahwa menulis novel bukan hanya tentang menghasilkan banyak kata.


Ada proses belajar di dalamnya.


Aku Mungkin Belum Pandai, Tapi Aku Punya Cerita


Sekarang aku tidak ingin terlalu memikirkan apakah diriku sudah pantas disebut penulis atau belum.


Aku hanya ingin terus mencoba.


Kalau suatu hari nanti aku bisa menulis lebih baik tanpa terlalu banyak bantuan, tentu aku akan senang.


Kalau ternyata prosesnya membutuhkan waktu yang lama, tidak masalah juga.


Untuk sekarang, aku masih punya cerita-cerita yang ingin kubuat.


Aku masih punya adegan yang tiba-tiba muncul di kepala.


Masih ada karakter yang ingin kuberi kehidupan.


Dan masih ada halaman kosong yang menunggu diisi.


Mungkin aku memang belum pandai menulis.


Tapi setidaknya aku tahu satu hal:


Aku suka membuat cerita.


Dan mungkin, untuk memulai perjalanan menjadi penulis, itu sudah cukup.


Komentar