Ada hari-hari ketika sebenarnya tidak terjadi sesuatu yang besar, tetapi kepala terasa penuh.
Pekerjaan ada.
Urusan rumah ada.
Anak membutuhkan perhatian.
Pesan yang belum dibalas masih menunggu.
Belum lagi hal-hal kecil yang terus berputar di kepala meskipun sebenarnya belum tentu harus diselesaikan hari itu juga.
Kadang tubuh sudah berada di rumah, tetapi pikiran masih tertinggal di berbagai tempat.
Aku rasa banyak orang pernah merasakan hal seperti ini.
Bukan selalu karena kita sedang menghadapi masalah besar. Terkadang terlalu banyak hal kecil yang datang bersamaan saja sudah cukup membuat pikiran terasa sesak.
Kalau sedang seperti itu, aku biasanya tidak langsung memaksa diri untuk menyelesaikan semuanya.
Aku mencoba berhenti sebentar.
Aku Belajar Tidak Harus Menyelesaikan Semuanya Sekaligus
Dulu, ketika banyak hal harus dilakukan, rasanya semua harus segera selesai.
Kalau ada pekerjaan yang belum beres, kepikiran.
Kalau rumah belum rapi, kepikiran.
Kalau ada sesuatu yang belum sempat dilakukan, rasanya seperti masih punya utang yang harus diselesaikan.
Padahal tidak semua hal memang harus selesai dalam satu hari.
Sekarang aku mencoba membedakan mana yang benar-benar perlu dilakukan segera dan mana yang masih bisa menunggu.
Kelihatannya sederhana, tetapi cara berpikir seperti ini cukup membantu ketika pikiran sedang penuh.
Daripada memikirkan sepuluh hal sekaligus, aku mencoba mengambil satu hal terlebih dahulu.
Selesaikan yang paling penting.
Setelah itu baru memikirkan yang lainnya.
Kadang Aku Hanya Butuh Berhenti Sebentar
Ada kalanya kita merasa bersalah ketika sedang tidak melakukan apa-apa.
Padahal tubuh dan pikiran juga membutuhkan istirahat.
Kalau hari sedang melelahkan, aku bisa mengambil waktu sebentar untuk duduk tanpa melakukan banyak hal.
Minum air.
Menikmati minuman hangat.
Mendengarkan sesuatu yang kusukai.
Atau sekadar melihat-lihat sesuatu yang membuat pikiranku sedikit lebih tenang.
Tidak harus lama.
Kadang beberapa menit saja sudah terasa berbeda.
Menurutku, mengambil jeda bukan berarti malas.
Justru kita sedang memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk berhenti sejenak sebelum kembali melakukan aktivitas.
Aku Tidak Selalu Memaksakan Diri Harus Positif
Ada satu hal yang juga mulai ku pahami.
Menjaga suasana hati bukan berarti kita harus selalu merasa bahagia.
Ada hari ketika kita memang lelah.
Ada hari ketika kita kecewa.
Ada hari ketika mood sedang tidak bagus.
Dan menurutku, tidak apa-apa mengakui hal tersebut.
Aku tidak harus memaksa diri mengatakan,
“Aku harus tetap positif.”
ketika sebenarnya sedang membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.
Menurutku, lebih baik mengakui bahwa hari ini memang terasa berat daripada berpura-pura semuanya baik-baik saja.
Yang penting, kita tidak membiarkan satu hari yang buruk membuat kita merasa bahwa semua hari akan selalu seperti itu.
Aku Berusaha Tidak Membawa Semua Hal ke Pikiran
Ini bagian yang mungkin paling sulit.
Kadang satu kejadian kecil bisa terus dipikirkan berulang kali.
Percakapan tadi.
Pesan seseorang.
Kesalahan kecil saat bekerja.
Atau sesuatu yang sebenarnya sudah selesai, tetapi masih kita putar kembali di kepala.
Aku juga pernah berada di situasi seperti itu.
Kalau sadar pikiranku mulai berputar terlalu jauh, aku mencoba bertanya kepada diri sendiri:
“Apakah ini memang perlu kupikirkan sekarang?”
Kalau jawabannya tidak, aku mencoba mengalihkan perhatian kepada sesuatu yang bisa kulakukan saat ini.
Bukan berarti masalahnya diabaikan.
Aku hanya tidak ingin menghabiskan seluruh energi untuk memikirkan sesuatu yang belum tentu bisa ku selesaikan saat itu.
Berbicara dengan Orang yang Dipercaya Juga Bisa Membantu
Kadang kita tidak membutuhkan solusi.
Kita hanya ingin didengarkan.
Ketika pikiran terlalu penuh, berbicara dengan orang yang kita percaya bisa membuat beban terasa sedikit lebih ringan.
Tidak harus selalu mendapatkan jawaban.
Terkadang cukup dengan mengatakan apa yang kita rasakan tanpa takut dihakimi.
Aku sendiri merasa bahwa menyimpan semuanya sendirian terlalu lama justru bisa membuat pikiran semakin penuh.
Karena itu, kalau memang ada orang yang bisa dipercaya, tidak ada salahnya bercerita.
Dan kalau seseorang belum siap bercerita kepada orang lain, menuliskan apa yang sedang dipikirkan juga bisa menjadi cara untuk menuangkan isi kepala.
Aku Mulai Lebih Memperhatikan Hal-Hal Kecil
Ketika sedang sibuk, kita sering hanya memperhatikan apa yang belum selesai.
Padahal ada banyak hal kecil yang sebenarnya sudah kita lakukan.
Sudah bekerja.
Sudah mengurus keluarga.
Sudah menyiapkan makanan.
Sudah menyelesaikan beberapa pekerjaan.
Tetapi karena masih ada yang belum selesai, kita merasa seolah-olah belum melakukan apa-apa.
Sekarang aku mencoba melihatnya dengan cara yang berbeda.
Tidak harus sempurna.
Tidak harus semuanya selesai.
Kalau hari ini aku sudah melakukan beberapa hal yang memang perlu dilakukan, itu juga sudah cukup.
Besok masih ada waktu untuk melanjutkan yang belum selesai.
Menjaga Diri Tidak Selalu Harus Mahal
Menurutku, menjaga kesehatan mental juga tidak selalu harus dilakukan dengan sesuatu yang mahal.
Tidak harus pergi jauh.
Tidak harus membeli sesuatu.
Kadang hal sederhanalah yang paling mudah dilakukan.
Tidur lebih cukup ketika memang punya kesempatan.
Makan dengan baik.
Minum air.
Berjalan sebentar.
Mengurangi waktu di depan layar.
Berbicara dengan orang yang membuat kita nyaman.
Atau sekadar memberikan diri sendiri waktu untuk melakukan sesuatu yang disukai.
Hal-hal kecil memang tidak otomatis menyelesaikan semua masalah.
Tetapi setidaknya kita memberi diri sendiri kesempatan untuk beristirahat dan mengatur kembali tenaga.
Tidak Semua Hari Harus Produktif
Aku semakin percaya bahwa tidak semua hari harus diisi dengan pencapaian.
Ada hari untuk bekerja.
Ada hari untuk mengurus rumah.
Ada hari untuk mengejar banyak hal.
Tetapi ada juga hari ketika kita hanya mampu melakukan hal-hal dasar.
Dan itu tidak membuat kita menjadi orang yang gagal.
Kita manusia.
Tenaga kita ada batasnya.
Suasana hati juga bisa berubah.
Karena itu, aku mulai belajar untuk tidak terlalu keras kepada diri sendiri hanya karena hari ini tidak seproduktif yang kuharapkan.
Besok masih ada kesempatan untuk mencoba lagi.
Ketika Pikiran Terasa Penuh
Kalau sekarang aku sedang merasa banyak hal menumpuk di kepala, aku mencoba kembali ke hal-hal sederhana.
Apa yang memang harus dilakukan hari ini?
Apa yang bisa menunggu?
Apa yang sebenarnya berada di luar kendaliku?
Dan apa yang bisa kulakukan untuk membuat beberapa menit ke depan terasa sedikit lebih baik?
Aku tidak selalu mendapatkan jawabannya.
Tetapi setidaknya pertanyaan-pertanyaan itu membantuku berhenti sejenak daripada terus mengikuti semua pikiran yang muncul.
Karena ternyata kita tidak selalu membutuhkan perubahan besar untuk merasa sedikit lebih baik.
Kadang kita hanya membutuhkan waktu untuk bernapas.
Untuk duduk.
Untuk beristirahat.
Untuk mengakui bahwa kita sedang lelah.
Dan untuk mengingatkan diri sendiri bahwa tidak apa-apa kalau hari ini tidak semuanya berjalan sempurna.
Kalau pikiran terasa terlalu berat dalam waktu lama, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau membuat seseorang merasa tidak aman, jangan ragu mencari bantuan dari tenaga profesional atau orang yang dipercaya. Meminta bantuan bukan berarti lemah.
Karena menjaga diri bukan hanya tentang bagaimana kita terlihat baik-baik saja di depan orang lain.
Kadang, menjaga diri berarti berani mengatakan kepada diri sendiri:
“Aku sedang lelah. Aku boleh berhenti sebentar.” ❤️

Komentar
Posting Komentar